Sebenarnya gue buat cerpen ini udah lama banget, sekitar dua tahun yang lalu wkwk. Karena takut suatu hari nanti, cerpen ini bakalan menghilang. Gue akhirnya memantapkan niat buat ngepost di blog. Ya semoga aja ada yang baca wkwk. Ditunggu kritik dan sarannya di kolom komentar yaa :)
HI RAIN
‘’Tuhan Maha adil. Tuhan tidak akan memberikan ujian
diluar batas kemampuan manusia itu sendiri.Terkadang kita pernah berpikiran
bahwa Tuhan itu tidak adil dengan memberikan cobaan yang tidak ada
hentinya.Tapi, ketahuilah bahwa Tuhan memiliki rencana lain dibalik semua
cobaan yang diberikan.’’
Langit sedang berbaik hati menurunkan
tetesan air yang awalnya hanya berupa rintik-rintik lama-kelamaan semakin
banyak dan deras seakan-akan berlomba untuk cepat sampai ke bumi.
Berlomba-lomba untuk membasahi tanah yang cukup lama terpanggang oleh sinar
matahari agar menjadi lembab.
Kerumunan orang-orang berlarian dengantergesa-gesa mencari tempat untuk berlindung dan dengan sekejap halte bus yang awalnya sepi
menjadi penuh sesak. Mereka mengumpat tentang hujan yang tiba-tiba datang,
membuat mereka harus mengeluarkan waktu lebih lama untuk pulang ke rumah, mengisitirahatkan badan mereka yang telah lelah
akibat pekerjaan yang mencekik mereka sepanjang hari. Seorang anak laki-laki dengan
seragam SMA yang dikeluarkan berjalan santai melewati kerumunan manusia yang
sedang mengumpat kepada hujan, ia berjalan bersama dengan hujan yang turun
semakin deras. Ia menikmati hujan, seolah hujan itu dapat menghapus semua kesedihan,kekesalan dan
kemarahan yang ia pendam sehingga ia merasakan kedamaian dan ketenangan.
Ia menengadahkan kepalanya
keatas langit dan bergumam “Ah, indahnya hari ini.”
b
“Yes. Hujan
turun!”
Pekik seorang gadis berkuncir kuda dengan
riang. Dengan cepat ia mengambil biola yang ada di atas meja belajar. Dengan
tersenyum ia membuka jendela kamarnya
dengan lebar.Ia
menghirup udara
dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya dan
perlahan-lahan nada-nada indah terdengar keluar dari gesekan busur dengan senar
biola. Ia
bermain dengan sepenuh jiwa, ia sudah tenggelam jauh dengan dunianya sendiri. Baginya bermain biola ditemani hujan
adalah hal yang menyenangkan.
b
Malam terasa dingin akibat hujan sore tadi. Namun kehangatan terasa di rumah keluarga Arga. Mereka terlihat sedang
bercengkrama satu sama lain di ruang keluarga. Saling tertawa dan menjahili
satu sama lain.
“Ra,
tadi kakak dapet brosur. Perlombaan biola gitu.” Kata Kevin seraya membolak-balikan majalah
otomotif yang ia baca
Rainy atau kerap disapa Rain
yang sedang asik bermain game diponselnya mendongkak menatap Kevin. “Mana kak, aku mau liat.” Jawab Rain dengan antusias
“Bentar deh,
kakak ambil dulu di Kamar.” Kevin meletakan majalah kesayangannya kemudian berlalu
kearah kamar
“Waah, aku mau ikut. Ini jarang-jarang
banget loh Helium – agency musik terkenal se-internasional- bikin acara kayak
gini di Indonesia. Awal desember lagi.” Teriak Rain
dengan mata berbinar-binar.
Rain melirik Mama
dan Papa dengan penuh harap.“Ma,Pa aku boleh
ikut ya? Please.”
“Kalo kamu kecapekan gimana? Mama nggak
mau kamu capek buat latihan. Nanti kamu jatuh sakit lagi.” Tolak mamanya.
“Pa, aku boleh ikut ya? Sekali aja aku
ikut lomba beginian. Untuk yang pertama dan terakhir deh.” Rain beralih menatap Papanya
dengan penuh harap.
“Papa bakalan ngijinin
kamu.Tapi kamu harus janji kalo kamu nggak bakalan jatuh sakit.”
Rain tersenyum senang saat
Papa memberikannya izin.“Yes, Papa ngijinin. Tinggal mama doang nih.” Teriak Rain
dalam hati
“Tapi, Pa? Kalo Rain nanti
sakit gimana?” Tolak Mama lagi, ia begitu khawatir dengan kesehatan anaknya.
Rainy Putri Arga.Anak kedua
dari keluarga Arga. Sejak lahir Putri memang memiliki kelainan jantung ASD(Atrial Septal Defect). Belum ada obat penyembuhnya saat
ini.Hanya ada obat pereda sakit saja.Saat anak-anak seusianya bermain berlarian
bersama teman-temannya di taman, Rain hanya bisa berada di dalam rumah sakit
ditemani udara yang dingin dan bau obat-obatan. Karena dulu kondisinya sangat
lemah dan rentan sakit, ia setiap hari harus selalu cek-up dan tinggal di rumah
sakit. Saat menginjak remaja keadaannya semakin membaik dan ia tidak diharuskan
selalu cek-up setiap hari. Rain tidak memiliki teman.Hanya Kevin kakaknya yang
selalu menemaninya bermain.Ia tidak sekolah di sekolah formal. Sejak umur 5
tahun ia mengikuti homeschooling,
sampai sekarang ia kelas 2 SMA.
“Ijinin aja Ma. Cuma sekali ini Ma. Rain bakal bak-baik aja kok. Gak usah khawatir kan ada
aku yang bakalan jagain Rain.” Kevin
berusaha untuk membujuk mamanya.
“Makasih Kak Kevin. Bujuk
Mama terus kak.” Ucap Rain dalam hati.Rain melirik Kevin penuh arti, ia
berharap kakaknya dapat meluluhkan hati mamanya.
“Mama bakalan ijinin. Tapi kamu harus
janji bakal jaga Rain.”Mama melirik Kevin.
“Siap Ma.”Ucap Kevin seraya memberi hormat kepada Mama.Semua pun
tertawa karena tingkah Kevin.
b
Berbeda dengan rumah keluarga Arga yang penuh
kehangatan. Rumah besar dan megah dengan gaya eropa bercat putih terlihat kaku dan dingin. Kesunyian di
tengah malam berganti dengan kebisingan. Dari dalam rumah itu terdengar pecahan
benda-benda, suara laki-laki dan perempuan saling beradu. Aura kemarahan sangat
terasa. Guci-guci mahal jatuh tak berdaya di lantai, berserakan di berbagai
tempat bekas pelampiasan kemarahan mereka. Terlihat di lantai dua, seorang anak
laki-laki berjalan tergesa-gesa menujukamar adiknya. Kamarnya tidak dikunci, ia
pun segera masuk dan mengunci pintu kamar. Ia menghidupkan lampu dan mencari
adiknya.
“Maura, kamu dimana?” bisiknya. Tetapi tidak
ada jawaban, hanya suara isakan yang terdengar.
Rafa – anak laki-laki itu bernama Rain
Altarafa- segera mencari adiknya yang sedang menangis. Rafa menemukannya, Maura terlihat duduk dengan menenggelamkan
kepalanya diantara kedua lengannya. Ia bersembunyi di bawah meja belajar,
tubuhnya bergetar. Rafa bergegas mendekatinya. Dengan sekali sentakan ia
membawa adiknya ke dalam pelukan.
“Kak..Maura..takut..Mama..Papa...berantem...lagi”
ucap Maura dengan suara bergetar.
“Maura jangan takut ada
kakak disini.Maura aman sama kakak.”Rafa berusaha memberikan ketenangan kepada
Maura.Ia mengusap kepala adiknya dengan penuh sayang.
“Maura
tidur ya.Kakak temenin.” Bujuk Rafa
“Kakak jangan tinggalin
Maura.Janji?”Maura menatap Rafa dengan mata masih mengeluarkan air mata.
“Iya, kakak janji.”Rafa
menatap Maura dengan sendu.
Rafa mengusap air mata Maura
dengan ibu jarinya.Rafa menggendong Maura menuju tempat tidur.Ia menidurkannya
dan menarik selimut sampai dagu.
“Maura tidur ya.Kakak akan
nemenin Maura sampai bangun.”Bisik Rafa seraya mengusap kepala Maura.
Maura perlahan-lahan
memejamkan matanya.Ia menatap Maura penuh sayang. Ia sangat sayang kepada
Maura. Ia merasa kasihan kepada adiknya. Adiknya masih 8 tahun, masa dimana
Maura seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Tapi,
di usia belia Maura harus mendengar pertengkaran orangtuanya setiap mereka
pulang bersama. Rafa pernah ingin kabur dari rumah.Ia lelah jika harus melihat
orangtuanya bertengkar, tapi apadaya ia tidak bisa meninggalkan adiknya.
“Maura kamu aman sama Kakak.
Kamu jangan takut, Kakak nggak akan ninggalin kamu” Bisiknya. Perlahan-lahan
Rafa pun tertidur di samping tempat tidur.
b
Setiap hari saat matahari
sudah berada di ufuk barat, Rain selalu pergi ke Danau di taman dekat rumahnya.
Ia selalu berada di tempat favoritnya –tepi danau-tempat satu-satunya yang
boleh dikunjungi oleh Rain sendirian. Dimana kanan-kirinya terdapat
berbagai macam bunga liar yang
berwarna-warni, dan juga jauh dari orang-orang yang berlalu-lalang. Iaselalu bermain
biola di sana, menikmati angin senja yang menyapanya.
Rainsebenarnya tahu kalau
selama 2 minggu ini, ia sering diperhatikan oleh seorang anak laki-laki
seusianya saat sedang bermain biola, tapi ia terus bermain dan berpura-pura
tidak tahu. Seperti sore ini, saat ia sudah mulai memainkan sebuah nada melalui
ekor matanya ia melihat anak laki-laki itu datang dan bersembunyi di balik
semak-semak.
“Mungkin hari ini aku harus
bertemu dan berkenalan dengan anak laki-laki itu.”Ucap Putri dalam hati.
Setelah merasa puas bermain
biola, Rain segera memasukkan biola ke dalam tas, dan berjalan menuju tempat
anak laki-laki itu. Dengan perlahan Rainberjalan menuju semak-semak, ia
berusaha untuk tidak bersuara agar tidak ketahuan. Rain menjulurkan kepalanya
di balik semak-semak dan terlihat anak laki-laki itu sedang memejamkan mata
dengan earphone yang menempel
dikepalanya, mulutnya bergerak menandakan ia bernyanyi mengikuti alunan musik
yang di dengarnya.
“Suara bagus juga. ”Puji Rain
dalam hati.
Rain berjalan mendekatinya,
ia berdiri di depan anak laki-laki itu. Lalu ia berjongkok mensejajarkan tinggi
badannya.Rain tersenyum saat anak laki-laki itu masih tidak menyadari
keberadaannya.
“Hei.”Panggilnya dan tangannya
mencolek bahu anak itu.
Anak laki-laki itu membuka
matanya, bola mata birunya terlihat lucu saat ia melotot karena terkejut. Rain
terkekeh saat anak itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Hei.” Ucapnya sekali lagi
dengan melambaikan tangannya di depan wajah anak itu, Rain berusaha untuk tidak
tertawa saat menyadari bahwa anak itu belum sadar dari kekagetannya.
b
Dari kejauhan tampak Rafa
sedang memperhatikan gadis biola –sebutannya untuk gadis yang selalu bermain
biola setiap sore di tepi danau- baginya mendengar permainan biolanya dapat
membuatnya tenang dan damai, ia selalu berada di jarak yang menurutnya cukup
aman agar tidak terlihat gadis biola. Rafa bertemu tidak sengaja dengan gadis itu, saat
itu ia sedang berjalan-jalan di Taman untuk meredakan segala emosinya akibat
pertengkaran orangtuanya.
Sore itu Rafa berjalan sendirian di taman, menendang segala sesuatu yang
ia jumpai.
“ARRRGGGHHHH!!Kenapa Tuhan itu nggak adil sama gue. Kenapa?”Teriaknya dengan
marah dan kecewa.Rafa menjambak rambutnya frustasi.
“Apa salah gue?Apa gue nggak berhak punya keluarga yang utuh. Punya
keluarga yang penuh kasih sayang? Gue nggak butuh uang yang mereka kasih, yang
gue butuh cuma kasih sayang dari mereka.” Lirih Rafa, matanya terasa panas ia
mendongkakkan kepalanya keatas. Ia tidak ingin airmatanya jatuh. Rafa
memejamkan matanya berharap angin bisa membawa segala kesedihannya saat ini.Ia
membuka matanya perlahan-lahan saat ia mendengar suara alat musik, ia
menajamkan pendengarannya.
“Sepertinya ada seseorang yang bermain biola.”Pikirnya.
Karena ia begitu penasaran, ia bangun dari duduknya dan mencari asal suara itu dan ia menemukan
seorang gadis mengenakan dress putih danberambut panjang ikal sampai punggung sedang
bermain biola di tepi danau.Ia pun melangkahkan kakinya dan bersembunyi dibalik
semak-semak yang tak jauh dari tempat gadis itu berada, sejak saat itu ia
selalu meluangkan waktunya setiap sore hanya untuk menemui gadis itu.
Tapi, pada hari ini setelah
mendengarkan permainan biolanya Rafa enggan beranjak pulang ke rumah.Ia lebih
memilih bersandar di pohon dan mendengarkan musik melalui earphone. Ia memejamkan matanya menikmati alunan musik. Saat ia
sedang asik bersenandung, tiba-tiba ada seseorang yang mencolek bahunya. Rafa
membuka matanya dan ia terkejut karena di depannya adalah gadis biola. Ia tidak
menyangka gadis biola itu akan menemuinya.
“Hei.”Sapa gadis biola dengan tersenyum.
Rafa mengerjapkan matanya
berapa kali, ia merasa kaget setengah mati.Apa benar di hadapannya kini adalah
gadis biola itu? Rafa melihat gadis itu terkekeh, mungkin karena wajah bodoh kagetnya.
“Hei.”Gadis itu menyapanya
lagi dengan menahan tawanya dan melambai-lambaikan tangannya di muka Rafa.Rafa
pun langsung tersadar dari kagetnya.
“Ehm.”Rafa berdehem untuk
mengembalikan suaranya yang hilang.
“Hei juga.” Rafa tersenyum
kaku, ia mengangkat sebelah tangannya. Ia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
“GueRain. Lo?” Gadis biola
itu menanyakan namanya dan mengulurkan tangannya.
“Rafa.” Jawab Rafa dengan
tersenyum dan ia membalas uluran tangan Rain.
Sejak hari itu, mereka tidak
sadar bahwa perkenalan singkat itu menjadi awal dimana merekaakan memulai
hal-hal yang baru bersama.
b
Sudah seminggu sejak
perkenalan singkat itu, kini Rain dan Rafa mulai akrab.Rafa sering menemani Rainbermain
biola di tepi danau.Seperti halnya kali ini juga.
“Rafa, lo nyanyi ya?Gue yang
main biola.”Kata Rain seraya mengambil biolanya.
Rafa yang sedang asik
melempar kerikil ke dalam danau, menoleh dengan cepat dan menolak permintaan Rain.“Nggak
mau, suara gue jelek.”
“Gue udah denger lonyanyi .Suara
lo bagus, ayolah.”Rengek Rain menggoyang-goyangkan tangan Rafa, berusaha
membujuknya.
“Oke, oke terserah. Mau lagu
apa?” Rafa menyerah, rengekkan Rain cukup membuat telinganya sakit.
“Yes!Lagunya Linkin Park
yang “Leave Out All The Rest” lo bisakan?” Rain berteriak senang.
Rafa mengangguk.
Rain memulai memegang biola
di tangan kiri dan busur biola di tangan kanan.Ia mengapit penyangga dagu pada
bahu kirinya. Rain menaruh jari-jari tangan di senar-senar biola, lalu
menggesek senar biola perlahan.Alunan musik mengalir dengan lembut, Rafa pun
mulai bernyanyi.
I dreamed I was missing
You were so scared
But no one would listen
'Cause no one else cared
After my dreaming
I woke with this fear
What am I leaving
When I'm done here?
Detik demi detik berlalu,
tanpa terasa Rafa sudah berhenti menyanyi.Rain menurunkan biola dan menatap
Rafa penuh kagum.
Rafa yang risih karena
ditatap terus-menerus oleh Rain, berbalik dan mengangkat sebelah alisnya.“Kenapa?”
“Suara lo bener-bener
bagus.Yaampun, gue bener-bener terpesona.”Puji Rain dengan sepenuh hati.
“Yaelah, biasa aja.Nggak
usah berlebihan deh, Ra. Mau eskrim nggak?”Rafa berusaha mengalihkan
pembicaraan. Sebenarnya iamerasa senang, karena ini pertama kalinya ia dipuji
oleh seseorang.
Rain
tak mau melewatkan kesempatan ini, kapan lagi ia ditraktir oleh Rafa pikirnya.
“Mau,
mau.Rasa cokelat ya.”Rain menjawab dengan cepat.
“Oke-oke, lo tunggu sini.”Rafa
beranjak dari tempatnya.Iamenghampiri tukang eskrim, membeli rasa coklat dan
vanilla kesukaanya.
“Nih.”Rafa menyodorkan
eskrim di pipi Rain, Rain menatapnya dan mengambil eskrim dari tangan Rafa.Rafa
duduk disebelah Rain dan memakan eskrimnya.
Rafa melihat Rain makan
eskrim dengan belepotan.Ia berusaha untuk menahan tawanya. Ia segera
mengeluarkan ponselnya.Ia harus mengabadikan momen ini.
“Rain.” Panggil Rafa.
Rain menoleh kearahnya, Rafa
tidak mau menyia-yiakan kesempatan ini. Dengan cepat ia memotret.
“Ra, muka lo lucu banget
sumpah.Haha.” Rafa tertawa dengan keras, ia menunjukan ponselnya ke arah Rain.
“Aiiissshhh, gila lo Raf.
Siniin nggak hape lo.Itu nggak lucu banget tau nggak.Muka gue belepotan.”Rainsewot
setengah mati, berusaha untuk mengambil ponsel di tangan Rafa, Rafa mengangkat
tangannya tinggi-tinggi..
“Kejar gue sini, kalo bisa
nanti gue kasih hapenya. Eh, tapikan kaki lo kan pendek jadinya nggak mungkin
bisa nangkep gue. Wleee.” Rafa segera berlari menjauhi Rain, ia menjulurkan
lidahnya dan mengacungkan ponselnya.
“Awas aja lo, Raf. Gue
cincang lo kalo dapet.”Teriak Raindengan jengkel sedangkan yang diteriaki hanya
tertawa dengan keras.
Rain dengan cepat lari
mengejar Rafa, tapi baru beberapa meter ia berlari ia merasakan sakit yang luar
biasa didadanya. Jantungnya seperti menolak untuk berlari. Refleks Rain
mencengkram dadanya dengan kuat, ia langsung jatuh terduduk di tanah. Keringat
dingin beraliran membanjiri wajahnya.Ia merogoh kantong celananya, mencari obat
pereda sakit. Ia mendapatkannya, dengan tangan gemetar ia berusaha membuka
tutup botolnya, dan ia meminum obatnya dengan cepat. Dengan cepat ia memasukkan
obatnya kembali ke kantong celananya, ia tidak ingin Rafa mengetahuinya. Rain
berusaha mendongkakan kepalanya untuk melihat Rafa.Terlihat Rafa berjalan
menuju tempatnya.
“Sial, kenapa dia harus ke
sini.Gue harus terlihat baik-baik aja, harus.”Pikir Rain cemas.
Rain berusaha membuat
wajahnya terlihat ceria, ia tidak ingin menunjukkan wajahnya yang kesakitan.
b
Rafa terlihat senang karena
ia berhasil memotret wajah belepotan Rain. Ia segera berlari menjauh sebelum Rain
mengamuk.
“Awas
aja lo, Raf. Gue cincang lo kalo dapet.” Teriak Rain.
Rafa tertawa terbahak-bahak
mendengar teriakan Rain.Ia menjulurkan lidahnya dan mengacungkan ponselnya. Ia
melihat Rain berlari ke arahnya. Ia pun segera berlari dengan tertawa.Tapi,
lama-kelamaan Rafa merasa ada yang janggal.Ia tidak mendengar langkah orang
berlari. Dengan cepat ia membalikan badan, dan ia melihat Rain duduk di tanah
dengan kepala tertunduk dan tangannya memegangi dada.Terlihat Rain sedang
mencari sesuatu di kantong celananya.Rafa segera berlari menghampirinya.
“Ra, lo kenapa?”Rafa
bertanya dengan khawatir.
“Gue nggak kenapa-napa.Tadi
gue jatuh, kesandung batu.Pulang yuk, udah sore.” Rain berusaha menunjukkan
bahwa dirinya baik-baik saja.Rain ingin cepat pulang ke rumah, meskipun Rain
sudah meminum obat tapi tetap saja masih terasa nyeri.
“Beneran Ra?” Rafa merasa
tak yakin kalau Rain baik-baik saja.Rafa berusaha untuk mencari lebih
tahu.Tapi, sepertinya Rain enggan untuk memberitahunya.
“Beneran.Nggak percayaan
amat sih.Ayo pulang!”Rain telah membereskan barang-barangnya dan berusaha
mengajak Rafa untuk pulang. Rafa pun menyerah tidak ingin mencari tahu lebih
lanjut meskipun ia masih sangat penasaran.
b
Hari ini, setelah pulang
sekolah rencananya Rafa akan bermain ke rumah Rain. Ia telah terlanjur janji
akan menemani Rain yang sedang homeschooling.
Saat bel sekolah berbunyi ia dengan cepat berjalan menuju parkiran. Ia segera
mengendarai motornya menuju rumah Rain. Jarak antara sekolah dengan rumah Rain
tidak terlalu jauh hanya menempuh waktu 15 menit.
Rafa mengklakson motornya
saat sudah berada di depan gerbang rumah Rain. Satpam yang mengenal Rafa
langsung membukakan gerbang.Rafa mengucapkan terima kasih, iamemakirkan
motornya di garasi.
“Rain” Rafa memanggil Rainsambil
mengetuk pintu rumah.
Tidak berapa lama pintu
dibuka oleh Mama Rain.
“Rainnya ada,Tante?” Tanya
Rafa dengan sopan.
“Ada, ayo masuk Raf.Anggap
aja rumah sendiri.Rain ada di ruang tengah kamu kesana aja.Tante mau pergi dulu.”Mama
Rain mempersilahkan Rafa masuk dan menyuruhnya langsung ke tempat Rain berada.
“Iya tante.”Rafa pun segera
masuk dan menuju ruang tengah.
Meskipun keluargaRain baru
mengenal Rafa, tapi entah mengapa mereka percaya kalau Rafa tidak akan berbuat
jahat kepada Rain. Mereka malah mempercayai Rafa untuk menjaga Rain saat mereka
pergi bersama.
Di ruang tengah terlihat Rain
sedang memperhatikan gurunya menjelaskan.Rain yang menyadari kehadiran Rafa
segera memanggilnya dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.Rafa menganggukkan
kepalanya dan menghampiri Rain.
“Nggak
kenapa-kenapa nih, Ra?” Tanya Rafa
“Nggak papa, santai
aja.Sekalian lo ikut belajar.”Jawab Rain sambil terkekeh.
Mau tidak mau Rafa
menyetujuinya, jika tidak pasti Rainakan merengek lagi. Meskipun ia baru mengenalnyatapi cukup untuk mengetahui
sifatnya yang ingin dituruti. Satu jam sudah berlalu, dan mereka pun telah
selesai belajar. Lebih tepatnya hanya Rain karena Rafa hanya bermain ponsel di
sebelah Rain.Rafa sudah merasa mau muntah jika harus belajar lagi, tujuh jam di
sekolah sudah cukup baginya.
Rain mengajak Rafa ke
halaman belakang rumahnya.Halaman belakang rumah Rain cukup luas, mereka duduk
di gazebo dekat dengan kolam renang.Mereka mengobrol santai sambil menikmati
cemilan yang ada.
“Ra, menurut lo Tuhan itu
selalu adil apa nggak?Tanya Rafa tiba-tiba seraya membaca majalah kesayangan
Kevin yang ia temukan.
Rain yang sedang asik
mengunyah makanan menjawab “Menurut gue Tuhan itu selalu adil.”
“Kenapa lo bisa berpikiran
seperti itu?” Tanya Rafa, ia menatap Rain
dengan penasaran.
Rain mendongkak dan menatap Rafa
“Karena Tuhan setiap memberikan cobaan pasti nggak pernah diluar batas
kemampuan manusia. Saat Tuhan memberikan manusia kesedihan pasti esoknya Tuhan
akan memberikan manusia kebahagian. Tuhan itu adil, sangat adil.Kita nggak
boleh nganggep kalo Tuhan itu nggak adil.” Jawab Rain dengan bijak
“Berarti setiap Tuhan
memberikan kita cobaan, kita pasti dapat menemukan jawaban untuk
menyelesaikannya?Tanya Rafa lagi.
“Yup, lo benar.Setiap manusia
pasti memiliki caranya tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya.”Jawab Rain
yang masih asik mengunyah makananya.
Sore itu dihabiskan oleh
Rafa dengan menatap langit yang sudah
berubah menjadi oranye, ia memikirkan semua ucapan Rain.
b
Hari minggu ini Rafa
menghabiskan waktunya di rumah Rain.Mereka kini sedang melakukan movie marathon.Sudah banyak film yang
mereka tonton dari film menye-menye sampai horror.Kini mereka sedang menonton
film laga.Rafa terlihat serius sambil beberapa kali mengomentari.Sedangkan Rain
hanya asik memakan popcornyang berada
di pangkuannya.
“Ra, lo udah tau lagu apa
yang mau lo bawain?” Tanya Rafa
tiba-tiba.
Rainmenoleh kearah Rafa, ia
menelanterlebih dahulu sebelum menjawab.
“Udah kok Raf, gue udah nemu lagunya
yang pas.”
“Lagu apa?”Tanya Rafa
penasaran.
“Rahasia.Lo kalo mau tau, lo
harus dateng liat perlombaan gue.”Rain menjawab dengan senyum jahilnya.
Rafa yang melihatnya hanya
mendengus.Sedangkan Rain terkekeh pelan.
“Lo harus dateng ya.Pokoknya
harus.Bisa nggak bisa harus dateng!”Rain mulai memaksa Rafa lagi.
Rafa yang tidak ingin berdebat hanya berkata “Oke-oke
terserah lo aja, Ra.”
Rain tersenyum dibuatnya,
dia mengulurkan jari kelingking ke hadapan Rafa.
“Janji?”Tanyanya
“Janji Ra.” Rafa mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Putri.
Mereka pun melanjutkan
menonton lagi, setelah tertunda beberapa saat.
b
Hari ini adalah hari dimana Rainakan
tampil memainkan biola dihadapan ratusan penonton. Tinggal menunggu beberapa
menit lagi Rain akan menaiki panggung. Rain terlihat sangat cantik, ia memakai
dress selutut berwarna biru laut, rambutnya terurai dengan indah dihiasi
jepitan kupu-kupu pemberian Rafa sehari sebelum perlombaan di mulai. Rain
terlihat sangat gugup, ini pertama kalinya ia akan memainkan biola dihadapan
semua orang. Rafa berada disebelahnya, ia mengenakan kemeja berwarna biru laut
lengannya di gulung sampai ke sikucocok dengan dress yang dipakai Rain, dan
rambutnya yang agak berantakan membuat dirinya terlihat tampan.
“Lo kenapa deh, Ra? Kayak
cacing kepanasan gitu.” Rafa menatap heran ke arah Rain.
“Gue deg-degan banget
Raf.Ini pertama kalinya buat gue.”Rain menatap Rafa dengan cemas.
“Lo tarik napas pelan-pelan,
abis itu buang napas” Rafa menyuruh Rain untuk melakukannya.Rain melakukannya
beberapa kali, sampai dirinya tenang.
Rafa yang melihat Rain sudah
tenang, menepuk kepala Raindan meyakinkan Rain bahwa ia pasti bisa menampilkan
yang terbaik.
“Selanjutnya Peserta nomor 4, Rainy Putri silahkan menaiki panggung.”
Suara pembawa acara
terdengar memanggil namanya.Rain merasa kaget karena namanya dipanggil.Ia
menoleh ke arah Rafa.
“Lo pasti bisa,Ra.
Semangat!!” Rafa terus menyemangati Rain.Ia memeluk Rain sebentar untuk
memberikan ketenangan.
Rain mengangguk-anggukan
kepalanya, ia tersenyum. Ia mendekatkan diri ke telinga Rafa.
“Lagu
ini buat lo Raf.” Bisik Rain.
Setelah mengatakan itu, Rain
segera berjalan masuk ke Panggung.Rafa yang mendengarnya hanya bisa tersenyum.
Ia segera beranjak pergi menuju bangku
penonton, di sana sudah ada keluarga Rain. Rafa bergegas duduk di sebelah
Kevin.
Rain berdiri di tengah
panggung, ia memberikan hormat kepada para dewan juri. Ia menatap sekilas
kearah keluarganya dan Rafa.Ia mengapit penyangga biola dengan bahu kiri,
jari-jarinya mulai menyentuh senar-senar biola. Perlahan-lahan ia menggesekkan
senar biola dengan busur di tangan kanannya. Alunan musik terdengar
keluar.Semua perhatian penonton tertuju padanya.Ia membuat suasana menjadi berbedadari
sebelumnya. Rain menatap Rafa dan tersenyum dengan tulus.Rafa terpaku di tempat
duduknya. Meskipun Rain tidak bernyanyi tapi ia mengetahui lirik lagu yang di
bawakannya. Rain memejamkan matanya, menghayati isi lagu.
When you were standing in the wake of devastation
When you were waiting on the edge of the unknow
And with the cataclysm raining down
Insides crying, “save me now”
You were there impossibly
alone
Semua orang berdiri
memberikan applausesaat Rain sudah selesai bermain.Mereka semua
terhanyut dalam permainan biola Rain.Rain tersenyum sekilas ke arah penonton dan
membungkukan badan ke arah dewan juri dan penonton.Rain kembali ke belakang
panggung. Dan di sana sudah ada Rafa berserta keluarganya. Mereka semua memuji Rain
termasuk Rafa.Rain terlihat bahagia, ia menghembuskan napasnya dengan lega karena telah bisa menampilkan yang terbaik. Kiniia tinggal menunggu hasil pengumuman.
Sudah dua jam berlalu, kini Rain
sudah berada di bangku penonton bersama
peserta yang lain. Pemenang lomba sebentar lagi akan diumumkan. Rain merasa
jantungnya berdegup dengan kencang, ia merasa benar-benar cemas.
“…Dan juara pertama lomba resital biola dimenangkan oleh Rainy Putri.
Kepada Rainy Putri harap segera menaiki Panggung.”
Rain langsung terlonjak
dengan kaget, ia menatap Rafa seolah-olah berkata “beneran-nama-gue-yang-dipanggil”.
Rafa mengangukan kepalanya, refleksRain langsung memeluk Rafa.
“Gue juara satu Raf!” Jerit Rain dengan rasa bahagia
yang sudah membuncah.Ia benar-benar tidak menyangka dirinya bisa memenangi
perlombaan ini.
Rafa hanya bisa terkekeh
melihat reaksi Rain.“Iya, tau.Udah turun dulu ambil pialanya sana.” Kata Rafa
Rain menganggukkan kepalanya
dan segera turun ke mimbar.
Setelah menerima piala juara
satu dan puas setelah berfoto-foto, Rafa, Rain dan keluarganya mampir ke sebuah
restoran untuk merayakan kemenangan Rain.Mereka makan-makan sambil bercanda
ria. Raut wajah mereka terlihat bahagia, bahagia karena Rain bisa memenangkan perlombaan itu. Rafa yang
melihat kebahagian keluarga Rain merasakan rasa hangat yang menjalar di
hatinya.Ia tersenyum bahagia, sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini.
Rafa hanya bisa berharap semoga ia dapat terus merasakan hal seperti ini.
Pukul 10 malam, Rain beserta
keluarga sudah kembali ke rumah, begitu juga dengan Rafa.Sesampainya di rumah Rain
langsung membersihkan diri dan berganti baju.Kini, Rain sudah siap untuk tidur
dengan piyamanya.Ia mengambil pialanya beserta foto yang sudah dicetak dan
meletakkannya di meja belajar. Rain tersenyum senang, ia memandangi pialanya,
lalu foto dirinya yang sedang memegang piala, foto dirinya bersama Rafa yang
saling merangkul satu sama lain dan terakhir foto dirinya beserta keluarganya. Rain
berdoa dalam hati berharap hari ini dan seterusnya ia tetap bisa merasakan
kebahagiaan seperti hari ini. Ia merasa
hari ini Tuhan memberikan nikmat yang luar biasa kepadanya, Rain mengucapkan
rasa syukurnya. Dan ia pun beranjak ke tempat tidurnya, perlahan-lahan ia
memejamkan matanya dan terlelap dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Tapi siapasangka, harapan
tidak pernah sesuai dengan kenyataan.
b
Keesokkan harinya, orang tua
Rain pergi ke London dikarenakan ada urusan pekerjaan yang mendadak.Rainakan
tinggal berdua dengan Kevin di rumah untuk satu minggu ke depan, hal ini sudah biasa
bagi dia dan Kevin. Seperti biasa ia melakukan kegiatan sehari-harinya sampai
malam hampir tiba. Karena merasa lelah setelah homeschooling dan bermain biola seharian mengisis waktu luang,
setelah makan malam Rain segera pergi ke kamar untuktidur .
Baru dua jam Rain tertidur,
tiba-tiba ia terbangun karena merasakan nyeri yang luar biasa di bagian dada. Rain
meraba-raba meja kecil di samping tempa tidur dan menghidupkan lampu. Dengan
menahan rasa sakit ia mencari obatnya, ia membuka laci-laci meja namun nihil ia
tidak dapat menemukannya. Wajah Rain putih pucat keringat dingin sudah
membasahi baju dan wajahnya.Ia mencengkram selimutnya dengan kuat menahan rasa
sakit. Sesaat Rain ingatjika obatnya
tadi ia letakkan di meja belajar, tapi Rain tidak punya tenaga lagi jika harus
berjalan. Napas Rain terengah-engah, ia
mencari ponselnya untuk menghubungi kakaknya. Satu kali panggilan tidak
diangkat.Rain memejamkan matanya.
“Tuhan, tolong jangan
sekarang.”Lirih Rain dalam hati.
Tes.Setetes darah jatuh
mengenai piyama Rain.Rain meraba hidungnya dan ia merasakan darah mengalir dari
hidungnya, ia mencoba menghentikanmimisan dengan piyamanya. Rain terus mencoba
lagi menghubungi Kevin, belum diangkat juga.Pada percobaan ketiga akhirnya
Kevin mengangkat teleponnya.
“Kenapa Ra?” Suara Kevin
serak khas orang baru bangun tidur.
Dengan sekuat tenaga Rain
menjawab. “Tolong…Rain … Kak…” Rain berkata dengan suara yang terengah-engah.
Telepon seketika langsung
diputus oleh Kevin, terdengar derap langkah orang berlari. Dengan cepat pintu
kamar terbuka dan terlihat Kevin dengan wajah panik.Ia menghidupkan lampu kamar
Rain dengan cepat.
“Astaga Rain.” Teriak Kevin
dengan kaget.Ia kaget melihat Rain dengan keadaan yang begitu mengenaskan. Piyamanya
basah oleh keringat dan darah yang mengalir dari hidungnya.wajahnya putih pucat
dan terlihat sedang menahan rasa sakit. Dengan cepat Kevin menghampiri Rain, ia
melihat menangkupkan wajah Rain. Rain dengan sekuat tenaga berbicara dan
menunjuk ke arah meja belajar.
“Obatnya
Kak.” Lirih Rain hampir tak bersuara
Kevin yang mengerti perkatan
Rain segera mengambil dan meminumkan obat ke Rain.Berharap obatnya segera
bereaksi. Kevin berlari ke kamarnya mengambil kunci mobil yang ia letakkan di
lemari kecil. Kevin mengambil jaket Rain di gantungan baju dan menyampirkan ke
tubuh Rain.Kevin segera mengangkat tubuh Rain, ia harus cepat membawa Rain ke
rumah sakit. Dengan cepat ia menuruni tangga dan menuju garasi.
Dengan
hati-hati Kevin meletakkan Rain di kursi depan, dan memakaikan sabuk pengaman.
Kevin berlari memutari mobil dan membuka pintu kemudi.Ia segera masuk dan
menghidupkan mesin mobil.
Kevin segera melajukan
mobilnya melewati gerbangrumah.Dengan kecepatan penuh, Kevin mengendarai mobil
membelah jalanan ibukota. Berulang kali ia menengok untuk mengecek keadaan Rain.
“Kamu yang kuat ya, Ra.”
Sepuluh menit mereka sudah
sampai di rumah sakit.Kevin segera turun dari mobil dan membuka pintu
penumpang, ia langsung menggendong Rain
masuk ke dalam rumah sakit. Kevin menidurkan Raindi ranjang rumah sakit yang
sudah disiapkan.Dengan cepat ia dan suster mendorong ranjang menuju ruang
operasi melewati koridor-koridor membelah kesunyian. Rain sudah masuk ke dalam
ruang operasi dan langsung ditangani oleh dokter.
Kevin berjalan mondar-mandir
di lorong rumah sakit. Wajahnya sangat panik, ia mencoba menghubungi orang
tuanya yang sedang ada urusan pekerjaan di London. Orang tua mereka juga sama
paniknya dengan Kevin. Ia mencoba menenangkan orang tuanya meskipun ia juga
tidak bisa menenangkan dirinya. Orang tua mereka akan segera berangkat ke Jakarta
melalui penerbangan pertama.
Dua jam sudah berlalu, tapi
dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Kevin terus berdoa di lorong rumah
sakit yang sudah sepi. Berulang kali ia melihat pintu ruang operasi, berharap
dokter segera keluar.
Pintu ruang operasi terbuka,
Kevin bisa bernapas lega setidaknya untuk saat ini.Ia segera menghampiri dokter
dan menanyakan keadaan adiknya.
“Gimana keadaan adik saya, Dok?Rain
baik-baik saja kan?”
“Mari
ikut ke ruangan saya.” Kata Dokter
Kevin berjalan mengikuti
dokter dan masuk ke dalam ruangannya.
Dokter mempersilahkannya duduk. Kevin duduk berhadapan dengan dokter, ia
melihat sekilas name tagnya –Ryan.
“Rain berada dalam masa
kritis, jantungnya hampir tidak berfungsi lagi.Ia membutuhkan donor secepatnya.”Kevin
merasa jatungnya lepas dari tempatnya saat mendengar penjelasan dari Dokter
Ryan, ia tidak bisa berkata-kata.
“Kami sudah memeriksa ke
semua rumah sakit, dan tidak ada donor jantung yang tersedia saat ini.Tapi,
kami akan melakukan operasi pencangkokan jantung untuk menopang hidupnya
sementara jika kalian menyetujui operasinya.”Tambah Dokter Ryan.
“Lakukan apapun Dok, lakukan
yang menurut Dokter terbaik. Selamatkan adik saya,Dok.”Kevin segera menyetujui
operasi tersebut, yang ada dipikirannya hanya keselamatan Rain.
“Baik anda bisa
menandatangani surat-suratnya terlebih dahulu.”Dokter memberikan suratkepada
Kevin dan Kevin segera menandatanganinya.
Operasi pencangkokan jantung selama 4 jam telah
berhasil dilakukan. Kini Rain dibawa menuju ruang ICU.Orang tuanya akan segera
tiba di Jakarta 3 jam lagi. Kevin menatap Rain yang tertidur dengan pandangan
yang nanar, wajah Rain begitu pucat.Ia mengusap kepala Rain dengan penuh
sayang.
b
Ini sudah hari ke-empat Rafa
tidak pernah melihat Rain datang di tepi danau lagi.Ia begitu khawatir, ia
takut sesuatu terjadi pada Rain. Selama tiga hari itu juga Rafa sudah
berkunjung ke rumah Rain, tetapi tidak ada seorang pun di rumahnya.Ia berharap
hari ini dapat mengetahui keberadaan Rain. Dengan cepat iamengayuh sepedanya, meninggalkan
taman dan menuju rumah Rain.
Saat Rafa akan masuk ke
gerbang rumah Rain, ia melihat Kevin berjalan menuju mobilnya dengan membawa
tas jinjing. Dengan cepat Rafa turun dari sepeda dan menghampiri Kevin.
“Hei,
Kak?” sapa Rafa.
Kevin
yang sedang memasukkan tas jinjing terkejut karena ia tidak menyangka akan
bertemu dengan Rafa.Selama tiga hari ini ia memang berusaha menghindari Rafa
dan tidak memberi tahu keadaan Rain, karena Rain pernah
menyuruhnya untuk tidak mengatakan apapun kepada Rafa jika ia sedang sakit.
“Oh,
hai Raf.” Kevin tersenyum menyapa Rafa.
“Rain kemana Kak?” Tanya
Rafa langsung.
Kevin terlihat menghela
napas setelah bergelut dengan pikirannya.Rafa mengangkat alisnya dengan
bingung.
“Sebenernya Rain bilang ke
gue kalo lo nggak boleh tau dia ada dimana. Tapi, menurut gue lo harus tau.Ayo
ikut gue kalo lo mau ketemu samaRain.” Ucap Kevin seraya masuk ke dalam mobil.
Rafa bingung karena
tiba-tiba Kevin menyuruhnya masuk mobil.Tapi, ia tidak bertanya lebih lanjut
menurutnya lebih baik ia diam saat ini, ia meletakkan sepedanya. Rafa segera
masuk ke dalam mobil ia duduk di kursi depan. Kevin segera melajukan mobilnya.
Di dalam mobil hanya terjadi keheningan, Rafa terlihat fokus bermain game di
ponselnya sedangkan Kevin fokus mengemudi. Hingga akhirnya mobil Kevin berhenti
di parkiran rumah sakit. Rafa merasa mobil yang di tumpanginya telah berhenti,ia
mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan melihat keadaan sekitar. Rumah sakit
pikirnya.Rafa turun dari mobil dengan wajah bingung.
“Kok
di rumah sakit.Emang Rain sakit ya kak?”Tanya Rafa dengan wajah bingung.
“Udah
lo ikut aja.” Jawab Kevin berjalan di depan Rafa.
Rafa dengan pasrah mengikuti
Kevin.Ia sampai di Kamar No. 29 di lantai tiga. Kevin masuk ke dalam kamar dan
meletakkan tas jinjingnya di samping lemari. Rafa ragu untuk masuk apa tidak,
firasatnya mengatakan kalau Rain sedang sakit. Tapi, ia berusaha menyangkalnya.Rafa
pun masuk ke dalam kamar.Ia melihat seseorang terbaring lemah dengan infus yang
menempel di tangannya dan memakai
masker oksigen.
Rafa penasaran, ia mendekati ranjang tempat tidur itu, ia benar-benar kaget
seseorang yang terbaring lemah itu ternyata adalah Rain.
“Rain sakit Raf.Dia sejak
lahir punya kelainan jantung.Kemarin tiga hari yang lalu penyakitnya
kambuh.Kata Dokter jantungnya hampir tidak berfungsi lagi, kemarin operasi
pencangkokkan jantung. Sampai sekarang ia belum bangun.Ia koma, Raf.” Kevin memecah
keheningan yang terjadi, iamemberitahu Rafa apa yang sebenarnya terjadi pada Rain
sebelum Rafa menanyakannya.
Jantung Rafa seakan jatuh
dari tempatnya saat ia mendengarkan penuturan Kevin. Ia ingin tidak mempercayai
kenyataan bahwa Rain sakit jantung dan sekarang sedang koma. Seluruh badan Rafa
terasa lemas, ia terduduk di samping ranjang.
“Ra, jadi selama ini lo
sakit.Kenapa lo nggak ngasih tau gue dari awal.Kalo gue tau dari awal gue nggak
bakal bikin lo lari buat ngejar gue waktu itu.” Kata Rafa lirih,ia menggenggam
tangan Rain dengan hati-hatidan menatap wajah Rain dengan pandangan nanar. Dan
juga ia baru menyadari penyebab Rainterjatuh di taman saat itu.
b
Sudah satu bulan Rain belum
juga terbangun dari tidurnya. Rafa selalu mengunjungi Rain setiap hari seusai
pulang sekolah.Ia selalu membawa sebuket bunga aster –bunga kesukaan Rain.Rafa
melangkahkan kakinya memsuki kamar rawat Rain.Kamar rawat Rain terlihat sepi,
orang tuanya dan Kevin sedang berada di Cafetaria untuk makan siang.Rafa menghampiri
Rain yang masih tertidur.
“Ra, bangun dong. Gue bawa
bunga aster nih kesukaan lo. Lo bangun dong..” Rafa berbicara padaRain –ia
tidak menyerah untuk terus mengajak Rain berbicara walaupun ia tahu Rain tidak
akan menjawabnya- seraya mengganti bunga yang lama dengan bunga yang baru
dibawanya dan meletakkannya di lemari kecil dekat jendela.
“Gue bawa gitar nih, lo mau
denger gue nyanyi nggak? Kalo lo mau denger suara gue yang bagus kata lo. Lo
harus bangun Ra. Haha ” Rafa tertawa dengan hambar, ia melirik ke arah Rain sejenak,
ia menghela napas saat tahu mata Rain masih terpejam.
Jari-jari Rafa mulai bermain
di antara senar-senar gitar. Alunan nada mulai terdengar, ia mulai bernyanyi
mengikuti nada-nada yang mengalir. Suaranya terdengar memenuhi kamar rawat Rain.
Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Rafa
menatap Rain sekali lagi, berharap gadis itu akan bangun dan menemaninya
bernyanyi.
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper
Across the seaI keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
b
Rain menatap bingung dengan
keadaan disekitarnya, ia tidak tahu dimana ia berada saat ini. Ia menatap
sekelilingnya, terlihat padang rumput yang luas.Dikelilingi oleh bunga aster,
anyelir, lilyyang bermekaran dengan indah kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari di atasnya. Terdapat danau luas di
tengah-tengah padang rumput, Rain berjalan mendekati danau itu. Danau itu
terlihat sangat indah, berwarna biru berkilauan akibat terpaan sinar
matahari.Iamenatap pantulan wajahnya di air danau. Terlihat ia mengenakan
mahkota bunga di kepalanya. Ia terlihat sangat cantik. Ia menatap tubuhnya, ia
mengenakan gaun pendek berwarna putih gading.
“Apa yang terjadi
denganku?Aku ada dimana?”Rain bertanya kepada dirinya sendiri. Tapi ia tidak
bisa menemukan jawabannya.
Terdengar suara orang yang
sedang berbicara, Rain menajamkan pendengarannya.Ia seperti mengenali suara
orang tersebut.
“Ra, bangun dong. Gue bawa
bunga aster nih kesukaan lo. Lo bangun dong. Bunganya indah banget nih.”
“Itu suara Rafa, iya bener
itu suara Rafa.”Rain lebih menajamkan pendengaran lagi, mencari sumber suara
tersebut berasal.
“Gue bawa gitar nih, lo mau
denger gue nyanyi nggak? Kalo lo mau denger suara gue yang bagus kata lo. Lo
harus bangun Ra. Haha ”
Suaranya terdengar lagi, Rain
segera berlari mencari sumber suara itu.Sayup-sayup terdengar suara petikan
gitar dan suara Rafa yang sedang bernyanyi.
Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Rain terus
mengikuti suara Rafa yang sedang bernyanyi, hingga akhirnya sekelilingnya
berubah menjadi gelap dan angin dingin yang menerpa dirinya.Rain merasakan
ketakutan yang sangat amat saat semua berubah menjadi gelap, dan tidak terdengar
suara Rafa yang sedang bernyanyi lagi.Rain menangis ketakutan, ia berusaha
memanggil Rafa dengan suaranya yang bergetar.
“Rafa
lo dimana?Rafa jawab gue!”Rain terduduk dan ia memeluk dirinya yang merasa
dingin. Ia menenggelamkan wajahnya diantara lututnya dan di dalam hatinya ia
terus memanggil Rafa. Sayup-sayup terdengar lagi suara Rafayang bernyanyi, Rain mendongkakan kepalanya dan ia melihat cahaya yang
sangat menyilaukan matanya. Ia menutupi matanya dengan telapak tangannya, dan
ia berdiri perlahan-lahan melangkah
mendekati cahaya itu. Dan ia masuk ke dalamnya dan hilang ditelan oleh cahaya.
b
Perlahan-lahan terlihat
pergerakan di jemari Rain, kelopak matanya terlihat bergerak menandakan akan
terbuka. Sayup-sayup ia mendengar seseorang bernyanyi, suara yang sudah sangat
ia kenal. Rain berusaha untuk membuka matanya, cahaya matahari yang silau
menyambutnya.Ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan dengan keadaan
disekitar. Ia menolehkan kepalanya ke samping dan terlihat Rafa yang sedang
memetik gitar dan mengakhiri nyanyiannya. Rain tersenyum tipis.Ia merasa senang
saat ia terbangun, orang yang pertama kali dilihatnya adalah Rafa.
Rafa menolehkan kepalanya
lagi kearah Rain berharap Rain sudah sadar.Rafa mengerjapkan matanya berulang
kali bahwa yang di lihatnya itu benar. Memang benar Rain sudah sadar dan saat
ini Rain sedang tersenyum lemah. Sinar
mata Rafa terlihat bahagia, karena mengetahui Rain sudah sadar.Ia meletakkan
gitar di samping meja kecil dan berjalan menghampiri Rain.
“Syukurlah lo udah sadar, Ra.
Lo tunggu ya, gue mau manggil Dokter dulu.Sama ngabarin orang tua lo dulu.”Ucap
Rafa dengan riang dan cepat, sebelum Rain menjawab Rafa sudah berlari keluar
kamar.
Tak lama Dokter dan orang
tua Rain pun datang.Dokter segera memeriksa keadaan Rain. Dokter mengatakan
bahwa Rain baik-baik saja danharus menjalani rawat inap sampai keadaannya
benar-benar pulih dan ia baru diperbolehkan pulang ke rumah.Semua orang yang
berada di ruangan itu bernapas dengan lega saat mengetahui Rain sudah baik-baik
saja.
b
Keadaan Rain semakin
mengalami kemajuan setiap hari. Kini ia sudah bisa bernapas dengan normal tanpa
menggunakan masker oksigen lagi. Hanya infus yang
masih menempel ditangannya.Di luar hujan turun dengan deras sejak tadi pagi karena
memang bulan ini adalah bulan basah.Ia melirik ke luar dan tersenyum senang.
Meskipun udara sangat dingin karena hujan yang tiada henti, Rain merasakan kehangatan
di dalam ruang rawatnya.Terlihat keluarganya beserta Rafa sedang berkumpul
menemaninya.Gelak tawa tercipta saat Rafa dan Kevin mencoba untuk membuat
lelucon.
“Aku
boleh buat permintaan nggak?”Rain tiba-tiba bersuara.Semua perhatian teralihkan
kepadanya.
Mama
mendekati Rain. “Kamu pengen minta apa sayang?” ucap Mama seraya mengelus
kepala Rain.
“Aku
pengen main sama hujan malam ini.”Rain menyebutkan permintaannya.Ia menatap
mamanya.
“Tapikan
kamu masih sakit sayang.” Mama menolak dengan lembut.
“Sekali
aja, Ma. Mama tau kan aku suka sama hujan. Cuma sebentar aja.Aku bosen di kamar
mulu.Pengen keluar.”Rain merengek dan mengeluarkan tatapan memohon.
“Tapi-..”
“Please
Ma.” Rain memotong ucapan Mama.Ia menangkupkan kedua telapak tangannya dan
dengan tatapan yang berlinang air mata.
Mama
menghela napas, jika Rain sudah mengeluarkan jurus ini, Mama tidak bisa menolak
lagi. Mama hanya bisa menganggukan kepalanya dan tersenyum.
“Yes
! Oh, iya. Aku juga mau sambil main kembang apiditemenin sama Rafa terus juga
sama mau pake dress kesayangan aku.” Perkataan Rain membuat semua orang di
ruangan itu hanya bisa melongo.Sedangkan putri hanya bisa terkekeh.
b
Rafa mendorong kursi roda
yang dinaiki Rain menuju lift. Dengan pelan-pelan ia mendorong kursi roda saat
masuk ke dalam lift. Rafa memencet tombol 9, dan lift pun bergerak naik menuju
lantai 9.Rafa membawa Rain menuju bangku panjang dekat dengan pembatas
dinding.Rafa duduk di sebelah kanan Rain. Sesuai permintaan Rain, Rain mengenakan
dress putih tanpa lengan kesayangan panjangnya sampai mata kaki. Rambutnya ia
biarkan tergerai, di tangannya masih menempel selang infus. Rainterlihat cantik
malam ini, wajahnya terlihat lebih bersinar dari biasanya.Malam ini hujan masih
turun dengan deras dan terasa sangat dingin, meskipun sudah dipaksa beberapa
kali Rain tetep kekeh tidak mau memakai jaket.Rain mendekati pagar pembatas
dengan mendorong kursi rodanya.Ia menengadahkan tangannya
ke atas langit, tetes-tetes hujan membasahi tangannya.
Rafa menghampirinya, dengan
tangan membawa kembang api. Ia menyalakan salah satu kembang api dan memberikan
kepada Rain. Raintersenyum lebar dan menerima kembang api yang diberikan Rafa.
Ia menggoyang-goyangkan kembang apinya..
“Raf, lo tau nggak kenapa
gue suka sama hujan?” Rain berbicara memecah keheningan malam.
Rafa hanya menggelengkan
kepalanya dan membiarkan Rain melanjutkan bicaranya.
“Karena hujan memberikan gue
ketenangan dan kenyamanan dalam satu waktu.Dulu cuma hujan yang jadi teman gue,
sebelum lo dateng. Dulu saat gue main biola gue ditemani hujan, tapi sekarang
gue ditemenin sama lo.” Rain tersenyum dengan tulus ia menatap Rafa di
sampingnya dengan teduh.
“Ternyata kita punya
kesamaan ya,Ra. Gue suka hujan lo juga suka. Bener kata lo, hujan memang pembawa ketenangan.Saat gue sedih, kecewa karena
orang tua gue yang berantem mulu hujan yang selalu buat semua perasaan itu
hilang.Gue sangat suka hujan sangat.”Rain tersenyum memandang hujan.
“Raf, gue pengen duduk di
samping lo. Bantuin gue.”Rain merengek dan mengulurkan tangannya.Rafa hanya
menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Rain dan tersenyum heran.Ia beranjak
dari duduknya, dan mengangkat Rain dari kursi roda. Ia mendudukan Rain di kursi
panjang dan Rafa pun duduk di sampingnya.
Rain menyenderkan kepalanya
di bahu Rafa.Rafa hanya membiarkan Rain melakukan hal itu.
“Raf, lo tau gue seneng
banget saat gue bisa jadi temen lo. Lo adalah teman pertama gue.”Kata Rain pelan.
“Gue
juga seneng bisa berteman sama lo.” Jawab Rafa
“Gue merasa benar-benar
bahagia saat lo mau nerima uluran tangan gue waktu itu. Mungkin kalo lo nolak
kita ngak akan jadi temen kali ya. Haha.” Jujur Rain.
“Lo tau gue bener-bener
kaget saat itu, gue beneran nggak nyangka kalo lo bakalan nyamperin gue dan
ngajak gue kenalan.Gue masih bingung lo kok bisa nemuin gue.Padahal gue udah memperkirakan
loh kalo gue nggak bakalan ketauan sama lo.Haha” Rafa terkekeh ringan saat
mengingat pertemuan mereka yang pertama.
“Firasat mungkin Haha.Lo tau
apa harapan gue?” Rain bertanya lagi.
“Nggak tau emangnya apa?”
“Menikmati hujan bareng
seorang teman.Dan sekarang gue seneng banget karena harapan gue terwujud.”
“Iya, harapan lo udah
terwujud, lo sekarang sama gue. Kita menikmati hujan bersama.”Rafa tersenyum
menatap Rain.
“Raf, udaranya dingin ya.Gue
jadi ngantuk.”Rain menguap.
“Kita balik ke kamar lo ya.
Lo tidur di sana.” Ucap Rafa seraya bangun dari duduknya, namun tautan
tanganRain menahan gerakannya.
“Nggak mau gue pengen di
sini aja.Gue pengen tidur di sini.Lima belas menit aja ya.”Pinta Rain.
“Tapi Ra-“
“Please Raf, lima belas
menit aja. Nanti lo bangunin gue.” Rengek Rain.
“Oke-oke.”Ucap Rafa sambil
membenarkan posisinya agar Rain nyaman tidur di bahunya.Ia menyampirkan jaket
yang ia bawa ke pundak Rain.
“Gue makin ngantuk, mata gue
berat.”Rain menguap lagi.
“Yaudah, lo cepet tidur
nanti gue bangunin.”
“Hmm, gue tidur ya.Makasih
buat semuanya. Gue sayang sama lo.” Gumam Rain.
“Gue juga sayang sama lo.”
Ucap Rafa.
Rain memejamkan matanya, ia
tersenyum setelah mendengar ucapan Rafa. Rafa menggenggam tangan Rain,
tangannya terasa hangat.Terdengar helaan napas yang teratur menandakan Rain
telah tertidur.
Sudah
satu jam berlalulebih berlalu. Rain masih tertidur.Rafa mendengarkan musik dengan earphonenya untuk menghilangkan rasa
sunyi yang menyergap hatinya.Rafa dengan sabar menunggu sampai Rain yang masih
tertidur.Ia menatap lurus ke depan, hujan sudah berhenti menyisakan tetes-tetes
air.
Sekarang
hampir dua jam dan Rain masih belum juga menunjukkan tanda akan terbangun.
Angin malam telah bertiup membawa udara yang dingin.Dengan enggan Rafa harus
membangunkan Rain dan kembali ke kamar jika tidak mau Rain bertambah sakit.
“Rain
ayo bangun.” Ucap Rafa seraya melepas earphonenya.Tetapi tidak ada
respon dari Rain hanya ada kesunyian.
Rafa
yang bingung karena Rain tidak meresponnya menggenggam tanganRain.
“Dingin?
Kok tangan Rain dingin banget.”Tanya Rafa heran dalam hati.
“Ra,
ayo bangun.” Panggil Rafa lagi, ia masih menggenggam tangan Rain.
“Tangan
lo dingin banget nih, ayo bangun. Kita balik ke kamar lo.Lo udah
kedinginan.”Rafa mengusapkan tangannya ke tangan Rain berharap dapat memberikan
kehangatan, tapi nihil tangan Rain tetep dingin.
“Rain,
bangun.”Rafa terus memanggil Rain, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Rafa
merasa ada yang janggal, dipikirannya terlintas jika Rain telah- tidak ia tidak
boleh berpikiran seperti itu. Rafa melihat tangannya yang masih menggenggam
tangan Rain dengan erat.Dengan gemetar dan perasaan yang tak karuan,
perlahan-lahan Rafa melepaskan genggamannya.
DEG!
Tangan
Rain langsung terjatuh begitu saja di atas paha Rafa. Muka Rafa langsung pucat
pasi, ia menatap tangan Rain dengan pandangan nanar. Setetes air mata jatuh dan
mengalir di pipi Rafa.
Tubuh
Rafa bergetar dengan hebat.Ia berusaha menolehkan kepalanya untuk melihat keadaan Rain. Tapi hatinya terus menolak,
sedangkan otak dan tubuhnya terus memaksa untuk menoleh. Kepalanya berhasil
menoleh, ia menurunkan pandangannya ke bawah. Terlihat Rain yang tertidur
dengan damai di pundaknya dengan wajah yang sebagian tertutupi rambut.Rafa
menghela napasnya sejenak. Dengan tangannya yang gemetar, ia mencoba
menangkupkan wajah Rain dengan kedua tangannya. Wajah Rain terlihat sangat
pucat, bibirnya memutih dan ia tidak bisa meendengar helaan napas Rain. Ia
mencoba untuk menyentuh hidung Rain, memastikan jika tadi itu tidak benar.
Tangannya bergetar sangat hebat saat ia tidak merasakan napas yang menjalari permukaan tangannya.
Air
mata Rafa berjatuhan, semakin lama semakin deras. Dengan sekali sentakan ia membawa
Rain ke dalam pelukannya. Ia memeluk Rain dengan sangat erat.
“Rain-bangun-jangan-bercanda-ah
haha.”Rafa tertawa dengan miris.
Rafa
mengambil napas dengan dalam mengisi
oksigen di paru-parunya yang terasa sangat sesak.
“Ra-Ra-
bangun-Rain.”Rafa memangil Rain lagi dengan suara yang gemetar.
“Maaf
Ra, maafin gue. Gue belum bisa jadi temen yang baik buat lo.Gue nggak bisa jaga
lo dengan baik.Ra, bangun Ra. Ayo kita main hujan. Ayo Ra.” Rafa meracau dalam
tangisannya.
Rafa
terisak dan menangis sejadi-jadinya, ia benar-benar tidak menyangka Rain akan
pergi meninggalkannya. Meninggalkannya secepat ini. Siapapun yang mendengar tangisannya akan merasakan pilu yang mendalam.
Rafa
menangis di bahu Rain.Ia menenggelamkan kepalanya dalam-dalam. Ia tahu jika
Rain tidak akan kembali lagi. Ia berharap ini semua hanya mimpi tidak nyata.
Rafa hanya berharap Rain sedang
mengerjainya. Rafa mencoba mencubit tangannya, berharap bisa membangunkannya dari mimpi. Tapi nihil, ini
benar-benar bukan mimpi ini nyata.
Di
balik tembok tempat Rafa dan Rain berada terlihat keluarga Rain, mereka
menyaksikan semuanya. Awalnya mereka bersembunyi di sana untuk menagwasi Rain
agar ia baik-baik saja. Tapi, ternyata Rain pergi meninggalkan mereka. Mama
menangis dengan pilu di pelukan Papa, sedangkan Kevin jatuh terduduk menahan
tangisannya. Mereka benar-benar tidak menyangka Rain akan pergi selamanya.
Malam
itu hujan kembali turun dengan deras, seolah bumi juga merasakan apa yang
mereka rasakan-kehilangan.
b
Pemakaman Rain dilaksanakan keesokkan harinya saat
sore hari. Langit mendung menaungi bumi menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Rafa hanya bisa menatap
dengan pandangan kosong saat Rain telah dikuburkan.Terlihat Mama Rain beberapa
kali pingsan dankarena tidak tega Papa Rain membawa pulang ke rumah.Orang-orang
yang melayat sudah beranjak pergi
meninggalkan makam, menyisakan Rafa dan Kevin yang masih berdiri.Rafa menaburkan bunga aster di makam Rain.Ia membuka kacamata
hitamnya, matanya sembab dan memerah. Rafa berjongkok dan menatap batu nisan, ia menyentuh tulisan di atasnya –Rainy
Putri Arga.
Kevin
yang berada di sampingnya juga keadaannya tidak jauh berbeda. Kevin menatap
nanar kearah makam Rain, ia hanya bisa tersenyum lemah. Kevin menyentuh pundak
Rafa dan Rafa menaikkan sebelah alisnya.
“Ini
dari Rain.Dia nitip ke gue sehari sebelum dia pergi.Gue pulang dulu ya. Lo juga
cepet pulang. Jangan sedih, Rain pasti nggak mau ngeliat kita sedih karena
kepergiannya.Lo harus ikhlas.” Ucap Kevin seraya memberikan secarik surat
kepada Rafa.
“Iya,
Kak makasih.Gue udah ikhlas, Kak.” Rafa menerima surat yang di berikan Kevin.
Kevin
hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi meninggalkan makam. Rafa
membuka surat dari Rain, ia membacanya sambil tersenyum.
“Hi. Rain!”
Lo
baik-baik aja kan? Haha.
Lo nggak
usah khawatir, gue juga baik-baik aja di sini.
Gue baru
sadar loh, kalo nama kita itu sama.
Lo Rain.
Gue juga
Rain.
Lo suka
hujan.
Gue juga
suka hujan.Haha.
Lucu ya,
ternyata kita ada kemiripan.
Gue minta
maaf kalo gue pergi ninggalin lo duluan. Lo tau, gue seneng banget kita bisa jadi temen. Lo temen pertama dan
terakhir buat gue. Maaf kalo selama ini gue selalu nyusahin lo.Dan maaf jugague
nggak ngasih tau kalo gue ini
sakit.Gue Cuma nggak pengen bikin lo khawatir.
Meskipun
gue udah pergi, gue akan selalu ada di hati lo. Lo jangan sedih apalagi nangis, kan nggak lucu. Seorang Rain Altarafa
nangis.Haha.
Makasih
udah buat kenangan yang indah.
Jaga diri
lo baik-baik.
Gue sayang
sama lo.
P.s: Jangan
pernah memebenci hujan.
With
Love,
Rainy.
Rafa menghapus air matanya yang menetes. Cukup ia tidak boleh menangis lagi. Ia melipat surat dan mengantonginya. Rafa beranjak dari
tempatnya, ia memandangi langit yang sebentar lagi akan turun hujan. Ia
menghela napas dan seulas senyum terlihat dibibirnya. Semilir angin menghampirinya, seolah Rain sedang menyapanya.Ia menatap makam
Rain sekali lagi.
“Selamat
jalan Rain.”
Setelah
Rafa mengucapkan selamat tinggal, ia berjalan pulang meninggalkan makam.
Kemudian rintik-rintik hujan turun mengiringi langkah Rafa.Rafa mendongkakkan
wajahnya dan tersenyum.
“Hi
Rain.”