Senin, 14 September 2020

Pendengar yang Baik


"Ternyata curhat ke kamu bikin lega ya".

Beberapa orang mengatakan hal seperti itu ke saya.
Kata mereka, saya adalah seorang pendengar yang baik. Jika mereka mempunyai masalah atau ingin curhat pasti langsung menghubungi saya.

"Kamu sibuk? Aku mau cerita nih."
Semacam itulah kalimat pembuka di setiap pesan Whatsapp ataupun saat menelpon. Terkadang tanpa bertanya apakah saya sedang sibuk atau apakah kabar saya sedang baik, mereka langsung memulai curhatan yang panjang dengan segala genre.

Terkadang saya tidak paham, mengapa mereka memilih saya sebagai tempat curhat. Mulai dari masalah percintaan, padahal saya adalah seorang single sejak lahir. Kalau kata orang sih, paham teori tapi tidak pernah praktek. Lalu ada juga yang curhat masalah keluarga. Terkadang saya hanya bisa terdiam membeku, tanpa bisa mengeluarkan suara untuk menghibur. Saya hanya bisa memberikan senyuman kecil dan berkata melalui mata, "Ayo semangat, kamu pasti bisa melaluinya".

Apalagi saat pandemi sekarang ini. Rasanya hampir setiap hari, saya mendapatkan banyak keluh kesah dari orang yang berbeda. Setiap saya buka Whatsapp pasti ada saja yang mengirim chat dengan kata pembuka "Yass". 
"Wah pasti orang ini mau curhat", pikir saya, bukannya mau suudzon tapi saat saya balas "Ada apa?", nggak ada satu menit langsung dibalas "Aku mau curhat". Hmm. Dipikir-pikir jika saya membuka biro khusus curhat, sepertinya saya tidak perlu kesusahan menyebar brosur iklan untuk mencari pelanggan hehe.

Dulu saya sempat berkata pada diri saya,
"Kamu harus jadi pendengar yang baik. Setiap orang yang datang dan curhat ke kamu tentang masalahnya berarti dia percaya sama kamu." 
Tapi, sekarang saya tidak ingin melabeli diri sebagai seorang pendengar yang baik. Karena saya terkadang merasa jenuh dan ingin rasanya menutup semua akses komunikasi agar tidak ada yang menghubungi saya hanya untuk sekadar "curhat".
Saya juga tidak pernah bisa memberikan solusi yang baik, dan terkadang menghindari setiap ajakan untuk bertemu. Rasanya terlalu melelahkan untuk menyerap semua energi negatif seorang diri.
Oleh karena itu, saya ingin meluruskan opini mereka tentang diri saya.  Saya bukanlah seorang pendengar yang baik.

Senin, 12 Desember 2016

HI RAIN


Sebenarnya gue buat cerpen ini udah lama banget, sekitar dua tahun yang lalu wkwk. Karena takut suatu hari nanti, cerpen ini bakalan menghilang. Gue akhirnya memantapkan niat buat ngepost di blog. Ya semoga aja ada yang baca wkwk. Ditunggu kritik dan sarannya di kolom komentar yaa :)

HI RAIN

‘’Tuhan Maha adil. Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan manusia itu sendiri.Terkadang kita pernah berpikiran bahwa Tuhan itu tidak adil dengan memberikan cobaan yang tidak ada hentinya.Tapi, ketahuilah bahwa Tuhan memiliki rencana lain dibalik semua cobaan yang diberikan.’’

Langit sedang berbaik hati menurunkan tetesan air yang awalnya hanya berupa rintik-rintik lama-kelamaan semakin banyak dan deras seakan-akan berlomba untuk cepat sampai ke bumi. Berlomba-lomba untuk membasahi tanah yang cukup lama terpanggang oleh sinar matahari agar menjadi lembab.
Kerumunan orang-orang berlarian dengantergesa-gesa mencari tempat untuk berlindung dan  dengan sekejap halte bus yang awalnya sepi menjadi penuh sesak. Mereka mengumpat tentang hujan yang tiba-tiba datang, membuat mereka harus mengeluarkan waktu lebih lama untuk pulang ke rumah, mengisitirahatkan badan mereka yang telah lelah akibat pekerjaan yang mencekik mereka sepanjang hari. Seorang anak laki-laki dengan seragam SMA yang dikeluarkan berjalan santai melewati kerumunan manusia yang sedang mengumpat kepada hujan, ia berjalan bersama dengan hujan yang turun semakin deras. Ia menikmati hujan, seolah hujan itu dapat menghapus semua kesedihan,kekesalan dan kemarahan yang ia pendam sehingga ia merasakan kedamaian dan ketenangan.
Ia menengadahkan kepalanya keatas langit dan bergumam Ah, indahnya hari ini.”

—b

“Yes. Hujan turun!”
Pekik seorang gadis berkuncir kuda dengan riang. Dengan cepat ia mengambil biola yang ada di atas meja belajar. Dengan tersenyum ia membuka jendela kamarnya dengan lebar.Ia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya dan perlahan-lahan nada-nada indah terdengar keluar dari gesekan busur dengan senar biola. Ia bermain dengan sepenuh jiwa, ia sudah tenggelam jauh dengan dunianya sendiri. Baginya bermain biola ditemani hujan adalah hal yang menyenangkan.

—b
Malam terasa dingin akibat hujan sore tadi. Namun kehangatan terasa di rumah keluarga Arga. Mereka terlihat sedang bercengkrama satu sama lain di ruang keluarga. Saling tertawa dan menjahili satu sama lain.
Ra, tadi kakak dapet brosur. Perlombaan biola gitu.” Kata Kevin seraya membolak-balikan majalah otomotif yang ia baca
Rainy atau kerap disapa Rain yang sedang asik bermain game diponselnya mendongkak menatap Kevin. “Mana kak, aku mau liat.” Jawab Rain dengan antusias
Bentar deh, kakak ambil dulu di Kamar.” Kevin meletakan majalah kesayangannya kemudian berlalu kearah kamar
“Waah, aku mau ikut. Ini jarang-jarang banget loh Helium – agency musik terkenal se-internasional- bikin acara kayak gini di Indonesia. Awal desember lagi.” Teriak Rain dengan mata berbinar-binar.
Rain melirik Mama dan Papa dengan penuh harap.“Ma,Pa aku boleh ikut ya? Please.”
“Kalo kamu kecapekan gimana? Mama nggak mau kamu capek buat latihan. Nanti kamu jatuh sakit lagi.” Tolak mamanya.
“Pa, aku boleh ikut ya? Sekali aja aku ikut lomba beginian. Untuk yang pertama dan terakhir deh.” Rain beralih menatap Papanya dengan penuh harap.
“Papa bakalan ngijinin kamu.Tapi kamu harus janji kalo kamu nggak bakalan jatuh sakit.”
Rain tersenyum senang saat Papa memberikannya izin.“Yes, Papa ngijinin. Tinggal mama doang nih.” Teriak Rain dalam hati
“Tapi, Pa? Kalo Rain nanti sakit gimana?” Tolak Mama lagi, ia begitu khawatir dengan kesehatan anaknya.
Rainy Putri Arga.Anak kedua dari keluarga Arga. Sejak lahir Putri memang memiliki kelainan jantung  ASD(Atrial Septal Defect). Belum ada obat penyembuhnya saat ini.Hanya ada obat pereda sakit saja.Saat anak-anak seusianya bermain berlarian bersama teman-temannya di taman, Rain hanya bisa berada di dalam rumah sakit ditemani udara yang dingin dan bau obat-obatan. Karena dulu kondisinya sangat lemah dan rentan sakit, ia setiap hari harus selalu cek-up dan tinggal di rumah sakit. Saat menginjak remaja keadaannya semakin membaik dan ia tidak diharuskan selalu cek-up setiap hari. Rain tidak memiliki teman.Hanya Kevin kakaknya yang selalu menemaninya bermain.Ia tidak sekolah di sekolah formal. Sejak umur 5 tahun ia mengikuti homeschooling, sampai sekarang ia kelas 2 SMA.
“Ijinin aja Ma. Cuma sekali ini Ma. Rain bakal bak-baik aja kok. Gak usah khawatir kan ada aku yang bakalan jagain Rain.” Kevin berusaha untuk membujuk mamanya.
“Makasih Kak Kevin. Bujuk Mama terus kak.” Ucap Rain dalam hati.Rain melirik Kevin penuh arti, ia berharap kakaknya dapat meluluhkan hati mamanya.
“Mama bakalan ijinin. Tapi kamu harus janji bakal jaga Rain.”Mama melirik Kevin.
“Siap Ma.”Ucap Kevin seraya memberi hormat kepada Mama.Semua pun tertawa karena tingkah Kevin.
—b

Berbeda dengan rumah keluarga Arga yang penuh kehangatan. Rumah besar dan megah dengan gaya eropa bercat putih terlihat kaku dan dingin. Kesunyian di tengah malam berganti dengan kebisingan. Dari dalam rumah itu terdengar pecahan benda-benda, suara laki-laki dan perempuan saling beradu. Aura kemarahan sangat terasa. Guci-guci mahal jatuh tak berdaya di lantai, berserakan di berbagai tempat bekas pelampiasan kemarahan mereka. Terlihat di lantai dua, seorang anak laki-laki berjalan tergesa-gesa menujukamar adiknya. Kamarnya tidak dikunci, ia pun segera masuk dan mengunci pintu kamar. Ia menghidupkan lampu dan mencari adiknya.
“Maura, kamu dimana?” bisiknya. Tetapi tidak ada jawaban, hanya suara isakan yang terdengar.
Rafa – anak laki-laki itu bernama Rain Altarafa- segera mencari adiknya yang sedang menangis. Rafa menemukannya, Maura terlihat duduk dengan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lengannya. Ia bersembunyi di bawah meja belajar, tubuhnya bergetar. Rafa bergegas mendekatinya. Dengan sekali sentakan ia membawa adiknya ke dalam pelukan.
“Kak..Maura..takut..Mama..Papa...berantem...lagi” ucap Maura dengan suara bergetar.
“Maura jangan takut ada kakak disini.Maura aman sama kakak.”Rafa berusaha memberikan ketenangan kepada Maura.Ia mengusap kepala adiknya dengan penuh sayang.
“Maura tidur ya.Kakak temenin.” Bujuk Rafa
“Kakak jangan tinggalin Maura.Janji?”Maura menatap Rafa dengan mata masih mengeluarkan air mata.
“Iya, kakak janji.”Rafa menatap Maura dengan sendu.
Rafa mengusap air mata Maura dengan ibu jarinya.Rafa menggendong Maura menuju tempat tidur.Ia menidurkannya dan menarik selimut sampai dagu.
“Maura tidur ya.Kakak akan nemenin Maura sampai bangun.”Bisik Rafa seraya mengusap kepala Maura.
Maura perlahan-lahan memejamkan matanya.Ia menatap Maura penuh sayang. Ia sangat sayang kepada Maura. Ia merasa kasihan kepada adiknya. Adiknya masih 8 tahun, masa dimana Maura seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Tapi, di usia belia Maura harus mendengar pertengkaran orangtuanya setiap mereka pulang bersama. Rafa pernah ingin kabur dari rumah.Ia lelah jika harus melihat orangtuanya bertengkar, tapi apadaya ia tidak bisa meninggalkan adiknya.
“Maura kamu aman sama Kakak. Kamu jangan takut, Kakak nggak akan ninggalin kamu” Bisiknya. Perlahan-lahan Rafa pun tertidur di samping tempat tidur.

—b

Setiap hari saat matahari sudah berada di ufuk barat, Rain selalu pergi ke Danau di taman dekat rumahnya. Ia selalu berada di tempat favoritnya –tepi danau-tempat satu-satunya yang boleh dikunjungi oleh Rain sendirian. Dimana kanan-kirinya terdapat berbagai macam  bunga liar yang berwarna-warni, dan juga jauh dari orang-orang yang berlalu-lalang. Iaselalu bermain biola di sana, menikmati angin senja yang menyapanya.
Rainsebenarnya tahu kalau selama 2 minggu ini, ia sering diperhatikan oleh seorang anak laki-laki seusianya saat sedang bermain biola, tapi ia terus bermain dan berpura-pura tidak tahu. Seperti sore ini, saat ia sudah mulai memainkan sebuah nada melalui ekor matanya ia melihat anak laki-laki itu datang dan bersembunyi di balik semak-semak.
“Mungkin hari ini aku harus bertemu dan berkenalan dengan anak laki-laki itu.”Ucap Putri dalam hati.
Setelah merasa puas bermain biola, Rain segera memasukkan biola ke dalam tas, dan berjalan menuju tempat anak laki-laki itu. Dengan perlahan Rainberjalan menuju semak-semak, ia berusaha untuk tidak bersuara agar tidak ketahuan. Rain menjulurkan kepalanya di balik semak-semak dan terlihat anak laki-laki itu sedang memejamkan mata dengan earphone yang menempel dikepalanya, mulutnya bergerak menandakan ia bernyanyi mengikuti alunan musik yang di dengarnya.
“Suara bagus juga. ”Puji Rain dalam hati.
Rain berjalan mendekatinya, ia berdiri di depan anak laki-laki itu. Lalu ia berjongkok mensejajarkan tinggi badannya.Rain tersenyum saat anak laki-laki itu masih tidak menyadari keberadaannya.
“Hei.”Panggilnya dan tangannya mencolek bahu anak itu.
Anak laki-laki itu membuka matanya, bola mata birunya terlihat lucu saat ia melotot karena terkejut. Rain terkekeh saat anak itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Hei.” Ucapnya sekali lagi dengan melambaikan tangannya di depan wajah anak itu, Rain berusaha untuk tidak tertawa saat menyadari bahwa anak itu belum sadar dari kekagetannya.
—b
Dari kejauhan tampak Rafa sedang memperhatikan gadis biola –sebutannya untuk gadis yang selalu bermain biola setiap sore di tepi danau- baginya mendengar permainan biolanya dapat membuatnya tenang dan damai, ia selalu berada di jarak yang menurutnya cukup aman agar tidak terlihat gadis biola. Rafa  bertemu tidak sengaja dengan gadis itu, saat itu ia sedang berjalan-jalan di Taman untuk meredakan segala emosinya akibat pertengkaran orangtuanya.
Sore itu Rafa berjalan sendirian di taman, menendang segala sesuatu yang ia jumpai.
“ARRRGGGHHHH!!Kenapa Tuhan itu nggak adil sama gue. Kenapa?”Teriaknya dengan marah dan kecewa.Rafa menjambak rambutnya frustasi.
“Apa salah gue?Apa gue nggak berhak punya keluarga yang utuh. Punya keluarga yang penuh kasih sayang? Gue nggak butuh uang yang mereka kasih, yang gue butuh cuma kasih sayang dari mereka.” Lirih Rafa, matanya terasa panas ia mendongkakkan kepalanya keatas. Ia tidak ingin airmatanya jatuh. Rafa memejamkan matanya berharap angin bisa membawa segala kesedihannya saat ini.Ia membuka matanya perlahan-lahan saat ia mendengar suara alat musik, ia menajamkan pendengarannya.
“Sepertinya ada seseorang yang bermain biola.”Pikirnya.
Karena ia begitu penasaran, ia bangun dari duduknya dan  mencari asal suara itu dan ia menemukan seorang gadis mengenakan dress putih danberambut panjang ikal sampai punggung sedang bermain biola di tepi danau.Ia pun melangkahkan kakinya dan bersembunyi dibalik semak-semak yang tak jauh dari tempat gadis itu berada, sejak saat itu ia selalu meluangkan waktunya setiap sore hanya untuk menemui gadis itu.
Tapi, pada hari ini setelah mendengarkan permainan biolanya Rafa enggan beranjak pulang ke rumah.Ia lebih memilih bersandar di pohon dan mendengarkan musik melalui earphone. Ia memejamkan matanya menikmati alunan musik. Saat ia sedang asik bersenandung, tiba-tiba ada seseorang yang mencolek bahunya. Rafa membuka matanya dan ia terkejut karena di depannya adalah gadis biola. Ia tidak menyangka gadis biola itu akan menemuinya.
“Hei.”Sapa  gadis biola dengan tersenyum.
Rafa mengerjapkan matanya berapa kali, ia merasa kaget setengah mati.Apa benar di hadapannya kini adalah gadis biola itu? Rafa melihat gadis itu terkekeh, mungkin karena wajah  bodoh kagetnya.
“Hei.”Gadis itu menyapanya lagi dengan menahan tawanya dan melambai-lambaikan tangannya di muka Rafa.Rafa pun langsung tersadar dari kagetnya.
“Ehm.”Rafa berdehem untuk mengembalikan suaranya yang hilang.
“Hei juga.” Rafa tersenyum kaku, ia mengangkat sebelah tangannya. Ia menggaruk  kepala belakangnya yang tidak gatal.
“GueRain. Lo?” Gadis biola itu menanyakan namanya dan mengulurkan tangannya.
“Rafa.” Jawab Rafa dengan tersenyum dan ia membalas uluran tangan Rain.
Sejak hari itu, mereka tidak sadar bahwa perkenalan singkat itu menjadi awal dimana merekaakan memulai hal-hal yang baru bersama.

—b

Sudah seminggu sejak perkenalan singkat itu, kini Rain dan Rafa mulai akrab.Rafa sering menemani Rainbermain biola di tepi danau.Seperti halnya kali ini juga.
“Rafa, lo nyanyi ya?Gue yang main biola.”Kata Rain seraya mengambil biolanya.
Rafa yang sedang asik melempar kerikil ke dalam danau, menoleh dengan cepat dan menolak permintaan Rain.“Nggak mau, suara gue jelek.”
“Gue udah denger lonyanyi .Suara lo bagus, ayolah.”Rengek Rain menggoyang-goyangkan tangan Rafa, berusaha membujuknya.
“Oke, oke terserah. Mau lagu apa?” Rafa menyerah, rengekkan Rain cukup membuat telinganya sakit.
“Yes!Lagunya Linkin Park yang “Leave Out All The Rest” lo bisakan?” Rain berteriak senang.
Rafa mengangguk.
Rain memulai memegang biola di tangan kiri dan busur biola di tangan kanan.Ia mengapit penyangga dagu pada bahu kirinya. Rain menaruh jari-jari tangan di senar-senar biola, lalu menggesek senar biola perlahan.Alunan musik mengalir dengan lembut, Rafa pun mulai bernyanyi.
I dreamed I was missing
You were so scared
But no one would listen
'Cause no one else cared

After my dreaming
I woke with this fear
What am I leaving
When I'm done here?

Detik demi detik berlalu, tanpa terasa Rafa sudah berhenti menyanyi.Rain menurunkan biola dan menatap Rafa penuh kagum.
Rafa yang risih karena ditatap terus-menerus oleh Rain, berbalik dan mengangkat sebelah alisnya.“Kenapa?”
“Suara lo bener-bener bagus.Yaampun, gue bener-bener terpesona.”Puji Rain dengan sepenuh hati.
“Yaelah, biasa aja.Nggak usah berlebihan deh, Ra. Mau eskrim nggak?”Rafa berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya iamerasa senang, karena ini pertama kalinya ia dipuji oleh seseorang.
Rain tak mau melewatkan kesempatan ini, kapan lagi ia ditraktir oleh Rafa pikirnya.
“Mau, mau.Rasa cokelat ya.”Rain menjawab dengan cepat.
“Oke-oke, lo tunggu sini.”Rafa beranjak dari tempatnya.Iamenghampiri tukang eskrim, membeli rasa coklat dan vanilla kesukaanya.
“Nih.”Rafa menyodorkan eskrim di pipi Rain, Rain menatapnya dan mengambil eskrim dari tangan Rafa.Rafa duduk disebelah Rain dan memakan eskrimnya.
Rafa melihat Rain makan eskrim dengan belepotan.Ia berusaha untuk menahan tawanya. Ia segera mengeluarkan ponselnya.Ia harus mengabadikan momen ini.
“Rain.” Panggil Rafa.
Rain menoleh kearahnya, Rafa tidak mau menyia-yiakan kesempatan ini. Dengan cepat ia memotret.
“Ra, muka lo lucu banget sumpah.Haha.” Rafa tertawa dengan keras, ia menunjukan ponselnya ke arah Rain.
“Aiiissshhh, gila lo Raf. Siniin nggak hape lo.Itu nggak lucu banget tau nggak.Muka gue belepotan.”Rainsewot setengah mati, berusaha untuk mengambil ponsel di tangan Rafa, Rafa mengangkat tangannya tinggi-tinggi..
“Kejar gue sini, kalo bisa nanti gue kasih hapenya. Eh, tapikan kaki lo kan pendek jadinya nggak mungkin bisa nangkep gue. Wleee.” Rafa segera berlari menjauhi Rain, ia menjulurkan lidahnya dan mengacungkan ponselnya.
“Awas aja lo, Raf. Gue cincang lo kalo dapet.”Teriak Raindengan jengkel sedangkan yang diteriaki hanya tertawa dengan keras.
Rain dengan cepat lari mengejar Rafa, tapi baru beberapa meter ia berlari ia merasakan sakit yang luar biasa didadanya. Jantungnya seperti menolak untuk berlari. Refleks Rain mencengkram dadanya dengan kuat, ia langsung jatuh terduduk di tanah. Keringat dingin beraliran membanjiri wajahnya.Ia merogoh kantong celananya, mencari obat pereda sakit. Ia mendapatkannya, dengan tangan gemetar ia berusaha membuka tutup botolnya, dan ia meminum obatnya dengan cepat. Dengan cepat ia memasukkan obatnya kembali ke kantong celananya, ia tidak ingin Rafa mengetahuinya. Rain berusaha mendongkakan kepalanya untuk melihat Rafa.Terlihat Rafa berjalan menuju tempatnya.
“Sial, kenapa dia harus ke sini.Gue harus terlihat baik-baik aja, harus.”Pikir Rain cemas.
Rain berusaha membuat wajahnya terlihat ceria, ia tidak ingin menunjukkan wajahnya yang kesakitan.
—b

Rafa terlihat senang karena ia berhasil memotret wajah belepotan Rain. Ia segera berlari menjauh sebelum Rain mengamuk.
“Awas aja lo, Raf. Gue cincang lo kalo dapet.” Teriak Rain.
Rafa tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Rain.Ia menjulurkan lidahnya dan mengacungkan ponselnya. Ia melihat Rain berlari ke arahnya. Ia pun segera berlari dengan tertawa.Tapi, lama-kelamaan Rafa merasa ada yang janggal.Ia tidak mendengar langkah orang berlari. Dengan cepat ia membalikan badan, dan ia melihat Rain duduk di tanah dengan kepala tertunduk dan tangannya memegangi dada.Terlihat Rain sedang mencari sesuatu di kantong celananya.Rafa segera berlari menghampirinya.
“Ra, lo kenapa?”Rafa bertanya dengan khawatir.
“Gue nggak kenapa-napa.Tadi gue jatuh, kesandung batu.Pulang yuk, udah sore.” Rain berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.Rain ingin cepat pulang ke rumah, meskipun Rain sudah meminum obat tapi tetap saja masih terasa nyeri.
“Beneran Ra?” Rafa merasa tak yakin kalau Rain baik-baik saja.Rafa berusaha untuk mencari lebih tahu.Tapi, sepertinya Rain enggan untuk memberitahunya.
“Beneran.Nggak percayaan amat sih.Ayo pulang!”Rain telah membereskan barang-barangnya dan berusaha mengajak Rafa untuk pulang. Rafa pun menyerah tidak ingin mencari tahu lebih lanjut meskipun ia masih sangat penasaran.

—b

Hari ini, setelah pulang sekolah rencananya Rafa akan bermain ke rumah Rain. Ia telah terlanjur janji akan menemani Rain yang sedang homeschooling. Saat bel sekolah berbunyi ia dengan cepat berjalan menuju parkiran. Ia segera mengendarai motornya menuju rumah Rain. Jarak antara sekolah dengan rumah Rain tidak terlalu jauh hanya menempuh waktu 15 menit.
Rafa mengklakson motornya saat sudah berada di depan gerbang rumah Rain. Satpam yang mengenal Rafa langsung membukakan gerbang.Rafa mengucapkan terima kasih, iamemakirkan motornya di garasi.
“Rain” Rafa memanggil Rainsambil mengetuk pintu rumah.
Tidak berapa lama pintu dibuka oleh Mama Rain.
“Rainnya ada,Tante?” Tanya Rafa dengan sopan.
“Ada, ayo masuk Raf.Anggap aja rumah sendiri.Rain ada di ruang tengah kamu kesana aja.Tante mau pergi dulu.”Mama Rain mempersilahkan Rafa masuk dan menyuruhnya langsung ke tempat Rain berada.
“Iya tante.”Rafa pun segera masuk dan menuju ruang tengah.
Meskipun keluargaRain baru mengenal Rafa, tapi entah mengapa mereka percaya kalau Rafa tidak akan berbuat jahat kepada Rain. Mereka malah mempercayai Rafa untuk menjaga Rain saat mereka pergi bersama.
Di ruang tengah terlihat Rain sedang memperhatikan gurunya menjelaskan.Rain yang menyadari kehadiran Rafa segera memanggilnya dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.Rafa menganggukkan kepalanya dan menghampiri Rain.
“Nggak kenapa-kenapa nih, Ra?” Tanya Rafa
“Nggak papa, santai aja.Sekalian lo ikut belajar.”Jawab Rain sambil terkekeh.
Mau tidak mau Rafa menyetujuinya, jika tidak pasti Rainakan merengek lagi. Meskipun ia baru  mengenalnyatapi cukup untuk mengetahui sifatnya yang ingin dituruti. Satu jam sudah berlalu, dan mereka pun telah selesai belajar. Lebih tepatnya hanya Rain karena Rafa hanya bermain ponsel di sebelah Rain.Rafa sudah merasa mau muntah jika harus belajar lagi, tujuh jam di sekolah sudah cukup baginya.
Rain mengajak Rafa ke halaman belakang rumahnya.Halaman belakang rumah Rain cukup luas, mereka duduk di gazebo dekat dengan kolam renang.Mereka mengobrol santai sambil menikmati cemilan yang ada.
“Ra, menurut lo Tuhan itu selalu adil apa nggak?Tanya Rafa tiba-tiba seraya membaca majalah kesayangan Kevin yang ia temukan.
Rain yang sedang asik mengunyah makanan menjawab “Menurut gue Tuhan itu selalu adil.”
“Kenapa lo bisa berpikiran seperti itu?” Tanya Rafa,  ia menatap Rain dengan penasaran.
Rain mendongkak dan menatap Rafa “Karena Tuhan setiap memberikan cobaan pasti nggak pernah diluar batas kemampuan manusia. Saat Tuhan memberikan manusia kesedihan pasti esoknya Tuhan akan memberikan manusia kebahagian. Tuhan itu adil, sangat adil.Kita nggak boleh nganggep kalo Tuhan itu nggak adil.” Jawab Rain dengan bijak
“Berarti setiap Tuhan memberikan kita cobaan, kita pasti dapat menemukan jawaban untuk menyelesaikannya?Tanya Rafa lagi.
“Yup, lo benar.Setiap manusia pasti memiliki caranya tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya.”Jawab Rain yang masih asik mengunyah makananya.
Sore itu dihabiskan oleh Rafa dengan  menatap langit yang sudah berubah menjadi oranye, ia memikirkan semua ucapan Rain.

—b

Hari minggu ini Rafa menghabiskan waktunya di rumah Rain.Mereka kini sedang melakukan movie marathon.Sudah banyak film yang mereka tonton dari film menye-menye sampai horror.Kini mereka sedang menonton film laga.Rafa terlihat serius sambil beberapa kali mengomentari.Sedangkan Rain hanya asik memakan popcornyang berada di pangkuannya.
“Ra, lo udah tau lagu apa yang mau lo  bawain?” Tanya Rafa tiba-tiba.
Rainmenoleh kearah Rafa, ia menelanterlebih dahulu sebelum menjawab.  “Udah kok  Raf, gue udah nemu lagunya yang pas.”
“Lagu apa?”Tanya Rafa penasaran.
“Rahasia.Lo kalo mau tau, lo harus dateng liat perlombaan gue.”Rain menjawab dengan senyum jahilnya.
Rafa yang melihatnya hanya mendengus.Sedangkan Rain terkekeh pelan.
“Lo harus dateng ya.Pokoknya harus.Bisa nggak bisa harus dateng!”Rain mulai memaksa Rafa lagi.
Rafa yang tidak ingin berdebat hanya berkata “Oke-oke terserah lo aja, Ra.”
Rain tersenyum dibuatnya, dia mengulurkan jari kelingking ke hadapan Rafa.
“Janji?”Tanyanya
“Janji Ra.” Rafa mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Putri.
Mereka pun melanjutkan menonton lagi, setelah tertunda beberapa saat.

—b

Hari ini adalah hari dimana Rainakan tampil memainkan biola dihadapan ratusan penonton. Tinggal menunggu beberapa menit lagi Rain akan menaiki panggung. Rain terlihat sangat cantik, ia memakai dress selutut berwarna biru laut, rambutnya terurai dengan indah dihiasi jepitan kupu-kupu pemberian Rafa sehari sebelum perlombaan di mulai. Rain terlihat sangat gugup, ini pertama kalinya ia akan memainkan biola dihadapan semua orang. Rafa berada disebelahnya, ia mengenakan kemeja berwarna biru laut lengannya di gulung sampai ke sikucocok dengan dress yang dipakai Rain, dan rambutnya yang agak berantakan membuat dirinya terlihat tampan.
“Lo kenapa deh, Ra? Kayak cacing kepanasan gitu.” Rafa menatap heran ke arah Rain.
“Gue deg-degan banget Raf.Ini pertama kalinya buat gue.”Rain menatap Rafa dengan cemas.
“Lo tarik napas pelan-pelan, abis itu buang napas” Rafa menyuruh Rain untuk melakukannya.Rain melakukannya beberapa kali, sampai dirinya tenang.
Rafa yang melihat Rain sudah tenang, menepuk kepala Raindan meyakinkan Rain bahwa ia pasti bisa menampilkan yang terbaik.
“Selanjutnya Peserta nomor 4, Rainy Putri silahkan menaiki panggung.”
Suara pembawa acara terdengar memanggil namanya.Rain merasa kaget karena namanya dipanggil.Ia menoleh ke arah Rafa.
“Lo pasti bisa,Ra. Semangat!!” Rafa terus menyemangati Rain.Ia memeluk Rain sebentar untuk memberikan ketenangan.
Rain mengangguk-anggukan kepalanya, ia tersenyum. Ia mendekatkan diri ke telinga Rafa.
            “Lagu ini buat lo Raf.” Bisik Rain.
Setelah mengatakan itu, Rain segera berjalan masuk ke Panggung.Rafa yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. Ia segera beranjak pergi  menuju bangku penonton, di sana sudah ada keluarga Rain. Rafa bergegas duduk di sebelah Kevin.
Rain berdiri di tengah panggung, ia memberikan hormat kepada para dewan juri. Ia menatap sekilas kearah keluarganya dan Rafa.Ia mengapit penyangga biola dengan bahu kiri, jari-jarinya mulai menyentuh senar-senar biola. Perlahan-lahan ia menggesekkan senar biola dengan busur di tangan kanannya. Alunan musik terdengar keluar.Semua perhatian penonton tertuju padanya.Ia membuat suasana menjadi berbedadari sebelumnya. Rain menatap Rafa dan tersenyum dengan tulus.Rafa terpaku di tempat duduknya. Meskipun Rain tidak bernyanyi tapi ia mengetahui lirik lagu yang di bawakannya. Rain memejamkan matanya, menghayati isi lagu.

When you were standing in the wake of devastation
When you were waiting on the edge of the unknow
And with the cataclysm raining down
Insides crying, “save me now”
You were there impossibly alone

Semua orang berdiri memberikan applausesaat Rain sudah selesai bermain.Mereka semua terhanyut dalam permainan biola Rain.Rain tersenyum sekilas ke arah penonton dan membungkukan badan ke arah dewan juri dan penonton.Rain kembali ke belakang panggung. Dan di sana sudah ada Rafa berserta keluarganya. Mereka semua memuji Rain termasuk Rafa.Rain terlihat bahagia, ia menghembuskan napasnya dengan lega karena telah bisa menampilkan yang terbaik. Kiniia  tinggal menunggu hasil pengumuman.
Sudah dua jam berlalu, kini Rain  sudah berada di bangku penonton bersama peserta yang lain. Pemenang lomba sebentar lagi akan diumumkan. Rain merasa jantungnya berdegup dengan kencang, ia merasa benar-benar cemas.
“…Dan juara pertama lomba resital biola dimenangkan oleh Rainy Putri. Kepada Rainy Putri harap segera menaiki Panggung.”
Rain langsung terlonjak dengan kaget, ia menatap Rafa seolah-olah berkata “beneran-nama-gue-yang-dipanggil”. Rafa mengangukan kepalanya, refleksRain langsung memeluk Rafa. 
“Gue juara  satu Raf!” Jerit Rain dengan rasa bahagia yang sudah membuncah.Ia benar-benar tidak menyangka dirinya bisa memenangi perlombaan ini.
Rafa hanya bisa terkekeh melihat reaksi Rain.“Iya, tau.Udah turun dulu ambil pialanya sana.” Kata Rafa
Rain menganggukkan kepalanya dan segera turun ke mimbar.
Setelah menerima piala juara satu dan puas setelah berfoto-foto, Rafa, Rain dan keluarganya mampir ke sebuah restoran untuk merayakan kemenangan Rain.Mereka makan-makan sambil bercanda ria. Raut wajah mereka terlihat bahagia, bahagia karena Rain  bisa memenangkan perlombaan itu. Rafa yang melihat kebahagian keluarga Rain merasakan rasa hangat yang menjalar di hatinya.Ia tersenyum bahagia, sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Rafa hanya bisa berharap semoga ia dapat terus merasakan hal seperti ini.
Pukul 10 malam, Rain beserta keluarga sudah kembali ke rumah, begitu juga dengan Rafa.Sesampainya di rumah Rain langsung membersihkan diri dan berganti baju.Kini, Rain sudah siap untuk tidur dengan piyamanya.Ia mengambil pialanya beserta foto yang sudah dicetak dan meletakkannya di meja belajar. Rain tersenyum senang, ia memandangi pialanya, lalu foto dirinya yang sedang memegang piala, foto dirinya bersama Rafa yang saling merangkul satu sama lain dan terakhir foto dirinya beserta keluarganya. Rain berdoa dalam hati berharap hari ini dan seterusnya ia tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti hari ini.  Ia merasa hari ini Tuhan memberikan nikmat yang luar biasa kepadanya, Rain mengucapkan rasa syukurnya. Dan ia pun beranjak ke tempat tidurnya, perlahan-lahan ia memejamkan matanya dan terlelap dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Tapi siapasangka, harapan tidak pernah sesuai dengan kenyataan.

—b

Keesokkan harinya, orang tua Rain pergi ke London dikarenakan ada urusan pekerjaan yang mendadak.Rainakan tinggal berdua dengan Kevin di rumah untuk satu minggu ke depan, hal ini sudah biasa bagi dia dan Kevin. Seperti biasa ia melakukan kegiatan sehari-harinya sampai malam hampir tiba. Karena merasa lelah setelah homeschooling dan bermain biola seharian mengisis waktu luang, setelah makan malam Rain segera pergi ke kamar untuktidur .
Baru dua jam Rain tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan nyeri yang luar biasa di bagian dada. Rain meraba-raba meja kecil di samping tempa tidur dan menghidupkan lampu. Dengan menahan rasa sakit ia mencari obatnya, ia membuka laci-laci meja namun nihil ia tidak dapat menemukannya. Wajah Rain putih pucat keringat dingin sudah membasahi baju dan wajahnya.Ia mencengkram selimutnya dengan kuat menahan rasa sakit. Sesaat Rain ingatjika  obatnya tadi ia letakkan di meja belajar, tapi Rain tidak punya tenaga lagi jika harus berjalan. Napas Rain terengah-engah, ia mencari ponselnya untuk menghubungi kakaknya. Satu kali panggilan tidak diangkat.Rain memejamkan matanya.
“Tuhan, tolong jangan sekarang.”Lirih Rain dalam hati.
Tes.Setetes darah jatuh mengenai piyama Rain.Rain meraba hidungnya dan ia merasakan darah mengalir dari hidungnya, ia mencoba menghentikanmimisan dengan piyamanya. Rain terus mencoba lagi menghubungi Kevin, belum diangkat juga.Pada percobaan ketiga akhirnya Kevin mengangkat teleponnya.
“Kenapa Ra?” Suara Kevin serak khas orang baru bangun tidur.
Dengan sekuat tenaga Rain menjawab. “Tolong…Rain … Kak…” Rain berkata dengan suara yang terengah-engah.
Telepon seketika langsung diputus oleh Kevin, terdengar derap langkah orang berlari. Dengan cepat pintu kamar terbuka dan terlihat Kevin dengan wajah panik.Ia menghidupkan lampu kamar Rain dengan cepat.
“Astaga Rain.” Teriak Kevin dengan kaget.Ia kaget melihat Rain dengan keadaan yang begitu mengenaskan. Piyamanya basah oleh keringat dan darah yang mengalir dari hidungnya.wajahnya putih pucat dan terlihat sedang menahan rasa sakit. Dengan cepat Kevin menghampiri Rain, ia melihat menangkupkan wajah Rain. Rain dengan sekuat tenaga berbicara dan menunjuk ke arah meja belajar.
“Obatnya Kak.” Lirih Rain hampir tak bersuara
Kevin yang mengerti perkatan Rain segera mengambil dan meminumkan obat ke Rain.Berharap obatnya segera bereaksi. Kevin berlari ke kamarnya mengambil kunci mobil yang ia letakkan di lemari kecil. Kevin mengambil jaket Rain di gantungan baju dan menyampirkan ke tubuh Rain.Kevin segera mengangkat tubuh Rain, ia harus cepat membawa Rain ke rumah sakit. Dengan cepat ia menuruni tangga dan menuju garasi.
            Dengan hati-hati Kevin meletakkan Rain di kursi depan, dan memakaikan sabuk pengaman. Kevin berlari memutari mobil dan membuka pintu kemudi.Ia segera masuk dan menghidupkan mesin mobil.
Kevin segera melajukan mobilnya melewati gerbangrumah.Dengan kecepatan penuh, Kevin mengendarai mobil membelah jalanan ibukota. Berulang kali ia menengok untuk mengecek keadaan Rain.
“Kamu yang kuat ya, Ra.”
Sepuluh menit mereka sudah sampai di rumah sakit.Kevin segera turun dari mobil dan membuka pintu penumpang, ia  langsung menggendong Rain masuk ke dalam rumah sakit. Kevin menidurkan Raindi ranjang rumah sakit yang sudah disiapkan.Dengan cepat ia dan suster mendorong ranjang menuju ruang operasi melewati koridor-koridor membelah kesunyian. Rain sudah masuk ke dalam ruang operasi dan langsung ditangani oleh dokter.
Kevin berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit. Wajahnya sangat panik, ia mencoba menghubungi orang tuanya yang sedang ada urusan pekerjaan di London. Orang tua mereka juga sama paniknya dengan Kevin. Ia mencoba menenangkan orang tuanya meskipun ia juga tidak bisa menenangkan dirinya. Orang tua mereka akan segera berangkat ke Jakarta melalui penerbangan pertama.
Dua jam sudah berlalu, tapi dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Kevin terus berdoa di lorong rumah sakit yang sudah sepi. Berulang kali ia melihat pintu ruang operasi, berharap dokter segera keluar.
Pintu ruang operasi terbuka, Kevin bisa bernapas lega setidaknya untuk saat ini.Ia segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan adiknya.
“Gimana keadaan adik saya, Dok?Rain baik-baik saja kan?”
“Mari ikut ke ruangan saya.” Kata Dokter
Kevin berjalan mengikuti dokter dan  masuk ke dalam ruangannya. Dokter mempersilahkannya duduk. Kevin duduk berhadapan dengan dokter, ia melihat sekilas name tagnya –Ryan.
“Rain berada dalam masa kritis, jantungnya hampir tidak berfungsi lagi.Ia membutuhkan donor secepatnya.”Kevin merasa jatungnya lepas dari tempatnya saat mendengar penjelasan dari Dokter Ryan, ia tidak bisa berkata-kata.
“Kami sudah memeriksa ke semua rumah sakit, dan tidak ada donor jantung yang tersedia saat ini.Tapi, kami akan melakukan operasi pencangkokan jantung untuk menopang hidupnya sementara jika kalian menyetujui operasinya.”Tambah  Dokter Ryan.
“Lakukan apapun Dok, lakukan yang menurut Dokter terbaik. Selamatkan adik saya,Dok.”Kevin segera menyetujui operasi tersebut, yang ada dipikirannya hanya keselamatan Rain.
“Baik anda bisa menandatangani surat-suratnya terlebih dahulu.”Dokter memberikan suratkepada Kevin dan Kevin segera menandatanganinya.
Operasi pencangkokan jantung selama 4 jam telah berhasil dilakukan. Kini Rain dibawa menuju ruang ICU.Orang tuanya akan segera tiba di Jakarta 3 jam lagi. Kevin menatap Rain yang tertidur dengan pandangan yang nanar, wajah Rain begitu pucat.Ia mengusap kepala Rain dengan penuh sayang.
—b

Ini sudah hari ke-empat Rafa tidak pernah melihat Rain datang di tepi danau lagi.Ia begitu khawatir, ia takut sesuatu terjadi pada Rain. Selama tiga hari itu juga Rafa sudah berkunjung ke rumah Rain, tetapi tidak ada seorang pun di rumahnya.Ia berharap hari ini dapat mengetahui keberadaan Rain. Dengan cepat iamengayuh sepedanya, meninggalkan taman dan menuju rumah Rain.
Saat Rafa akan masuk ke gerbang rumah Rain, ia melihat Kevin berjalan menuju mobilnya dengan membawa tas jinjing. Dengan cepat Rafa turun dari sepeda dan menghampiri Kevin.
“Hei, Kak?” sapa Rafa.
Kevin yang sedang memasukkan tas jinjing terkejut karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan Rafa.Selama tiga hari ini ia memang berusaha menghindari Rafa dan tidak memberi tahu keadaan Rain, karena Rain pernah menyuruhnya untuk tidak mengatakan apapun kepada Rafa jika ia sedang sakit.
“Oh, hai Raf.” Kevin tersenyum menyapa Rafa.
“Rain kemana Kak?” Tanya Rafa langsung.
Kevin terlihat menghela napas setelah bergelut dengan pikirannya.Rafa mengangkat alisnya dengan bingung.
“Sebenernya Rain bilang ke gue kalo lo nggak boleh tau dia ada dimana. Tapi, menurut gue lo harus tau.Ayo ikut gue kalo lo mau ketemu samaRain.” Ucap Kevin seraya masuk ke dalam mobil.
Rafa bingung karena tiba-tiba Kevin menyuruhnya masuk mobil.Tapi, ia tidak bertanya lebih lanjut menurutnya lebih baik ia diam saat ini, ia meletakkan sepedanya. Rafa segera masuk ke dalam mobil ia duduk di kursi depan. Kevin segera melajukan mobilnya. Di dalam mobil hanya terjadi keheningan, Rafa terlihat fokus bermain game di ponselnya sedangkan Kevin fokus mengemudi. Hingga akhirnya mobil Kevin berhenti di parkiran rumah sakit. Rafa merasa mobil yang di tumpanginya telah berhenti,ia mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan melihat keadaan sekitar. Rumah sakit pikirnya.Rafa turun dari mobil dengan wajah bingung.
“Kok di rumah sakit.Emang Rain sakit ya kak?”Tanya Rafa dengan wajah bingung.
“Udah lo ikut aja.” Jawab Kevin berjalan di depan Rafa.
Rafa dengan pasrah mengikuti Kevin.Ia sampai di Kamar No. 29 di lantai tiga. Kevin masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas jinjingnya di samping lemari. Rafa ragu untuk masuk apa tidak, firasatnya mengatakan kalau Rain sedang sakit. Tapi, ia berusaha menyangkalnya.Rafa pun masuk ke dalam kamar.Ia melihat seseorang terbaring lemah dengan infus yang menempel di tangannya dan memakai masker oksigen. Rafa penasaran, ia mendekati ranjang tempat tidur itu, ia benar-benar kaget seseorang yang terbaring lemah itu ternyata adalah Rain.
“Rain sakit Raf.Dia sejak lahir punya kelainan jantung.Kemarin tiga hari yang lalu penyakitnya kambuh.Kata Dokter jantungnya hampir tidak berfungsi lagi, kemarin operasi pencangkokkan jantung. Sampai sekarang ia belum bangun.Ia koma, Raf.” Kevin memecah keheningan yang terjadi, iamemberitahu Rafa apa yang sebenarnya terjadi pada Rain sebelum Rafa menanyakannya.
Jantung Rafa seakan jatuh dari tempatnya saat ia mendengarkan penuturan Kevin. Ia ingin tidak mempercayai kenyataan bahwa Rain sakit jantung dan sekarang sedang koma. Seluruh badan Rafa terasa lemas, ia terduduk di samping ranjang.
“Ra, jadi selama ini lo sakit.Kenapa lo nggak ngasih tau gue dari awal.Kalo gue tau dari awal gue nggak bakal bikin lo lari buat ngejar gue waktu itu.” Kata Rafa lirih,ia menggenggam tangan Rain dengan hati-hatidan menatap wajah Rain dengan pandangan nanar. Dan juga ia baru menyadari penyebab Rainterjatuh di taman saat itu.

b—

Sudah satu bulan Rain belum juga terbangun dari tidurnya. Rafa selalu mengunjungi Rain setiap hari seusai pulang sekolah.Ia selalu membawa sebuket bunga aster –bunga kesukaan Rain.Rafa melangkahkan kakinya memsuki kamar rawat Rain.Kamar rawat Rain terlihat sepi, orang tuanya dan Kevin sedang berada di Cafetaria untuk makan siang.Rafa menghampiri Rain yang masih tertidur.
“Ra, bangun dong. Gue bawa bunga aster nih kesukaan lo. Lo bangun dong..” Rafa berbicara padaRain –ia tidak menyerah untuk terus mengajak Rain berbicara walaupun ia tahu Rain tidak akan menjawabnya- seraya mengganti bunga yang lama dengan bunga yang baru dibawanya dan meletakkannya di lemari kecil dekat jendela.
“Gue bawa gitar nih, lo mau denger gue nyanyi nggak? Kalo lo mau denger suara gue yang bagus kata lo. Lo harus bangun Ra. Haha ” Rafa tertawa dengan hambar, ia melirik ke arah Rain sejenak, ia menghela napas saat tahu mata Rain masih terpejam.
Jari-jari Rafa mulai bermain di antara senar-senar gitar. Alunan nada mulai terdengar, ia mulai bernyanyi mengikuti nada-nada yang mengalir. Suaranya terdengar memenuhi kamar rawat Rain.
Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Rafa menatap Rain sekali lagi, berharap gadis itu akan bangun dan menemaninya bernyanyi.
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper
Across the seaI keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

—b

Rain menatap bingung dengan keadaan disekitarnya, ia tidak tahu dimana ia berada saat ini. Ia menatap sekelilingnya, terlihat padang rumput yang luas.Dikelilingi oleh bunga aster, anyelir, lilyyang bermekaran dengan indah kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari di atasnya. Terdapat danau luas di tengah-tengah padang rumput, Rain berjalan mendekati danau itu. Danau itu terlihat sangat indah, berwarna biru berkilauan akibat terpaan sinar matahari.Iamenatap pantulan wajahnya di air danau. Terlihat ia mengenakan mahkota bunga di kepalanya. Ia terlihat sangat cantik. Ia menatap tubuhnya, ia mengenakan gaun pendek berwarna putih gading.
“Apa yang terjadi denganku?Aku ada dimana?”Rain bertanya kepada dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa menemukan jawabannya.
Terdengar suara orang yang sedang berbicara, Rain menajamkan pendengarannya.Ia seperti mengenali suara orang tersebut.
“Ra, bangun dong. Gue bawa bunga aster nih kesukaan lo. Lo bangun dong. Bunganya indah banget nih.”
“Itu suara Rafa, iya bener itu suara Rafa.”Rain lebih menajamkan pendengaran lagi, mencari sumber suara tersebut berasal.
“Gue bawa gitar nih, lo mau denger gue nyanyi nggak? Kalo lo mau denger suara gue yang bagus kata lo. Lo harus bangun Ra. Haha ”
Suaranya terdengar lagi, Rain segera berlari mencari sumber suara itu.Sayup-sayup terdengar suara petikan gitar dan suara Rafa yang sedang bernyanyi.

Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying

            Rain terus mengikuti suara Rafa yang sedang bernyanyi, hingga akhirnya sekelilingnya berubah menjadi gelap dan angin dingin yang menerpa dirinya.Rain merasakan ketakutan yang sangat amat saat semua berubah menjadi gelap, dan tidak terdengar suara Rafa yang sedang bernyanyi lagi.Rain menangis ketakutan, ia berusaha memanggil Rafa dengan suaranya yang bergetar.
            “Rafa lo dimana?Rafa jawab gue!”Rain terduduk dan ia memeluk dirinya yang merasa dingin. Ia menenggelamkan wajahnya diantara lututnya dan di dalam hatinya ia terus memanggil Rafa. Sayup-sayup terdengar lagi suara Rafayang bernyanyi, Rain mendongkakan kepalanya dan ia melihat cahaya yang sangat menyilaukan matanya. Ia menutupi matanya dengan telapak tangannya, dan ia berdiri perlahan-lahan  melangkah mendekati cahaya itu. Dan ia masuk ke dalamnya dan hilang ditelan oleh cahaya.

—b

Perlahan-lahan terlihat pergerakan di jemari Rain, kelopak matanya terlihat bergerak menandakan akan terbuka. Sayup-sayup ia mendengar seseorang bernyanyi, suara yang sudah sangat ia kenal. Rain berusaha untuk membuka matanya, cahaya matahari yang silau menyambutnya.Ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan dengan keadaan disekitar. Ia menolehkan kepalanya ke samping dan terlihat Rafa yang sedang memetik gitar dan mengakhiri nyanyiannya. Rain tersenyum tipis.Ia merasa senang saat ia terbangun, orang yang pertama kali dilihatnya adalah Rafa.
Rafa menolehkan kepalanya lagi kearah Rain berharap Rain sudah sadar.Rafa mengerjapkan matanya berulang kali bahwa yang di lihatnya itu benar. Memang benar Rain sudah sadar dan saat ini Rain sedang  tersenyum lemah. Sinar mata Rafa terlihat bahagia, karena mengetahui Rain sudah sadar.Ia meletakkan gitar di samping meja kecil dan berjalan menghampiri Rain.
“Syukurlah lo udah sadar, Ra. Lo tunggu ya, gue mau manggil Dokter dulu.Sama ngabarin orang tua lo dulu.”Ucap Rafa dengan riang dan cepat, sebelum Rain menjawab Rafa sudah berlari keluar kamar.
Tak lama Dokter dan orang tua Rain pun datang.Dokter segera memeriksa keadaan Rain. Dokter mengatakan bahwa Rain baik-baik saja danharus menjalani rawat inap sampai keadaannya benar-benar pulih dan ia baru diperbolehkan pulang ke rumah.Semua orang yang berada di ruangan itu bernapas dengan lega saat mengetahui Rain sudah baik-baik saja.

—b
           
Keadaan Rain semakin mengalami kemajuan setiap hari. Kini ia sudah bisa bernapas dengan normal tanpa menggunakan masker oksigen lagi. Hanya infus yang masih menempel ditangannya.Di luar hujan turun dengan deras sejak tadi pagi karena memang bulan ini adalah bulan basah.Ia melirik ke luar dan tersenyum senang. Meskipun udara sangat dingin karena hujan yang tiada henti, Rain merasakan kehangatan di dalam ruang rawatnya.Terlihat keluarganya beserta Rafa sedang berkumpul menemaninya.Gelak tawa tercipta saat Rafa dan Kevin mencoba untuk membuat lelucon.
            “Aku boleh buat permintaan nggak?”Rain tiba-tiba bersuara.Semua perhatian teralihkan kepadanya.
            Mama mendekati Rain. “Kamu pengen minta apa sayang?” ucap Mama seraya mengelus kepala Rain.
            “Aku pengen main sama hujan malam ini.”Rain menyebutkan permintaannya.Ia menatap mamanya.
            “Tapikan kamu masih sakit sayang.” Mama menolak dengan lembut.
            “Sekali aja, Ma. Mama tau kan aku suka sama hujan. Cuma sebentar aja.Aku bosen di kamar mulu.Pengen keluar.”Rain merengek dan mengeluarkan tatapan memohon.
            “Tapi-..”
            “Please Ma.” Rain memotong ucapan Mama.Ia menangkupkan kedua telapak tangannya dan dengan tatapan yang berlinang air mata.
            Mama menghela napas, jika Rain sudah mengeluarkan jurus ini, Mama tidak bisa menolak lagi. Mama hanya bisa menganggukan kepalanya dan tersenyum.
            “Yes ! Oh, iya. Aku juga mau sambil main kembang apiditemenin sama Rafa terus juga sama mau pake dress kesayangan aku.” Perkataan Rain membuat semua orang di ruangan itu hanya bisa melongo.Sedangkan putri hanya bisa terkekeh.

—b

Rafa mendorong kursi roda yang dinaiki Rain menuju lift. Dengan pelan-pelan ia mendorong kursi roda saat masuk ke dalam lift. Rafa memencet tombol 9, dan lift pun bergerak naik menuju lantai 9.Rafa membawa Rain menuju bangku panjang dekat dengan pembatas dinding.Rafa duduk di sebelah kanan Rain. Sesuai permintaan Rain, Rain mengenakan dress putih tanpa lengan kesayangan panjangnya sampai mata kaki. Rambutnya ia biarkan tergerai, di tangannya masih menempel selang infus. Rainterlihat cantik malam ini, wajahnya terlihat lebih bersinar dari biasanya.Malam ini hujan masih turun dengan deras dan terasa sangat dingin, meskipun sudah dipaksa beberapa kali Rain tetep kekeh tidak mau memakai jaket.Rain mendekati pagar pembatas dengan mendorong kursi rodanya.Ia menengadahkan tangannya ke atas langit, tetes-tetes hujan membasahi tangannya.
Rafa menghampirinya, dengan tangan membawa kembang api. Ia menyalakan salah satu kembang api dan memberikan kepada Rain. Raintersenyum lebar dan menerima kembang api yang diberikan Rafa. Ia menggoyang-goyangkan kembang apinya..
“Raf, lo tau nggak kenapa gue suka sama hujan?” Rain berbicara memecah keheningan malam.
Rafa hanya menggelengkan kepalanya dan membiarkan Rain melanjutkan bicaranya.
“Karena hujan memberikan gue ketenangan dan kenyamanan dalam satu waktu.Dulu cuma hujan yang jadi teman gue, sebelum lo dateng. Dulu saat gue main biola gue ditemani hujan, tapi sekarang gue ditemenin sama lo.” Rain tersenyum dengan tulus ia menatap Rafa di sampingnya dengan teduh.
“Ternyata kita punya kesamaan ya,Ra. Gue suka hujan lo juga suka. Bener kata lo, hujan memang pembawa ketenangan.Saat gue sedih, kecewa karena orang tua gue yang berantem mulu hujan yang selalu buat semua perasaan itu hilang.Gue sangat suka hujan sangat.”Rain tersenyum memandang hujan.
“Raf, gue pengen duduk di samping lo. Bantuin gue.”Rain merengek dan mengulurkan tangannya.Rafa hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Rain dan tersenyum heran.Ia beranjak dari duduknya, dan mengangkat Rain dari kursi roda. Ia mendudukan Rain di kursi panjang dan Rafa pun duduk di sampingnya.
Rain menyenderkan kepalanya di bahu Rafa.Rafa hanya membiarkan Rain melakukan hal itu.
“Raf, lo tau gue seneng banget saat gue bisa jadi temen lo. Lo adalah teman pertama gue.”Kata Rain pelan.
“Gue juga seneng bisa berteman sama lo.” Jawab Rafa
“Gue merasa benar-benar bahagia saat lo mau nerima uluran tangan gue waktu itu. Mungkin kalo lo nolak kita ngak akan jadi temen kali ya. Haha.” Jujur Rain.
“Lo tau gue bener-bener kaget saat itu, gue beneran nggak nyangka kalo lo bakalan nyamperin gue dan ngajak gue kenalan.Gue masih bingung lo kok bisa nemuin gue.Padahal gue udah memperkirakan loh kalo gue nggak bakalan ketauan sama lo.Haha” Rafa terkekeh ringan saat mengingat pertemuan mereka yang pertama.
“Firasat mungkin Haha.Lo tau apa harapan gue?” Rain bertanya lagi.
“Nggak tau emangnya apa?”
“Menikmati hujan bareng seorang teman.Dan sekarang gue seneng banget karena harapan gue terwujud.”
“Iya, harapan lo udah terwujud, lo sekarang sama gue. Kita menikmati hujan bersama.”Rafa tersenyum menatap Rain.
“Raf, udaranya dingin ya.Gue jadi ngantuk.”Rain menguap.
“Kita balik ke kamar lo ya. Lo tidur di sana.” Ucap Rafa seraya bangun dari duduknya, namun tautan tanganRain menahan gerakannya.
“Nggak mau gue pengen di sini aja.Gue pengen tidur di sini.Lima belas menit aja ya.”Pinta Rain.
“Tapi Ra-“
“Please Raf, lima belas menit aja. Nanti lo bangunin gue.” Rengek Rain.
“Oke-oke.”Ucap Rafa sambil membenarkan posisinya agar Rain nyaman tidur di bahunya.Ia menyampirkan jaket yang ia bawa ke pundak Rain.
“Gue makin ngantuk, mata gue berat.”Rain menguap lagi.
“Yaudah, lo cepet tidur nanti gue bangunin.”
“Hmm, gue tidur ya.Makasih buat semuanya. Gue sayang sama lo.” Gumam Rain.
“Gue juga sayang sama lo.” Ucap Rafa.
Rain memejamkan matanya, ia tersenyum setelah mendengar ucapan Rafa. Rafa menggenggam tangan Rain, tangannya terasa hangat.Terdengar helaan napas yang teratur menandakan Rain telah tertidur.

            Sudah satu jam berlalulebih berlalu. Rain masih tertidur.Rafa mendengarkan musik dengan earphonenya untuk menghilangkan rasa sunyi yang menyergap hatinya.Rafa dengan sabar menunggu sampai Rain yang masih tertidur.Ia menatap lurus ke depan, hujan sudah berhenti menyisakan tetes-tetes air.
            Sekarang hampir dua jam dan Rain masih belum juga menunjukkan tanda akan terbangun. Angin malam telah bertiup membawa udara yang dingin.Dengan enggan Rafa harus membangunkan Rain dan kembali ke kamar jika tidak mau Rain bertambah sakit.
            “Rain ayo bangun.” Ucap Rafa seraya melepas earphonenya.Tetapi tidak ada respon dari Rain hanya ada kesunyian.
            Rafa yang bingung karena Rain tidak meresponnya menggenggam tanganRain.
            “Dingin? Kok tangan Rain dingin banget.”Tanya Rafa heran dalam hati.
            “Ra, ayo bangun.” Panggil Rafa lagi, ia masih menggenggam tangan Rain.
            “Tangan lo dingin banget nih, ayo bangun. Kita balik ke kamar lo.Lo udah kedinginan.”Rafa mengusapkan tangannya ke tangan Rain berharap dapat memberikan kehangatan, tapi nihil tangan Rain tetep dingin.
            “Rain, bangun.”Rafa terus memanggil Rain, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
            Rafa merasa ada yang janggal, dipikirannya terlintas jika Rain telah- tidak ia tidak boleh berpikiran seperti itu. Rafa melihat tangannya yang masih menggenggam tangan Rain dengan erat.Dengan gemetar dan perasaan yang tak karuan, perlahan-lahan Rafa melepaskan genggamannya.
            DEG!
            Tangan Rain langsung terjatuh begitu saja di atas paha Rafa. Muka Rafa langsung pucat pasi, ia menatap tangan Rain dengan pandangan nanar. Setetes air mata jatuh dan mengalir di pipi Rafa.
            Tubuh Rafa bergetar dengan hebat.Ia berusaha menolehkan kepalanya untuk melihat keadaan Rain. Tapi hatinya terus menolak, sedangkan otak dan tubuhnya terus memaksa untuk menoleh. Kepalanya berhasil menoleh, ia menurunkan pandangannya ke bawah. Terlihat Rain yang tertidur dengan damai di pundaknya dengan wajah yang sebagian tertutupi rambut.Rafa menghela napasnya sejenak. Dengan tangannya yang gemetar, ia mencoba menangkupkan wajah Rain dengan kedua tangannya. Wajah Rain terlihat sangat pucat, bibirnya memutih dan ia tidak bisa meendengar helaan napas Rain. Ia mencoba untuk menyentuh hidung Rain, memastikan jika tadi itu tidak benar. Tangannya bergetar sangat hebat saat ia tidak merasakan napas yang menjalari permukaan tangannya.
            Air mata Rafa berjatuhan, semakin lama semakin deras. Dengan sekali sentakan ia membawa Rain ke dalam pelukannya. Ia memeluk Rain dengan sangat erat.
            “Rain-bangun-jangan-bercanda-ah haha.”Rafa tertawa dengan miris.
            Rafa mengambil napas dengan dalam  mengisi oksigen di paru-parunya yang terasa sangat sesak.
            “Ra-Ra- bangun-Rain.”Rafa memangil Rain lagi dengan suara yang gemetar.
            “Maaf Ra, maafin gue. Gue belum bisa jadi temen yang baik buat lo.Gue nggak bisa jaga lo dengan baik.Ra, bangun Ra. Ayo kita main hujan. Ayo Ra.” Rafa meracau dalam tangisannya.
            Rafa terisak dan menangis sejadi-jadinya, ia benar-benar tidak menyangka Rain akan pergi meninggalkannya. Meninggalkannya secepat ini. Siapapun yang mendengar tangisannya akan merasakan pilu yang mendalam.
            Rafa menangis di bahu Rain.Ia menenggelamkan kepalanya dalam-dalam. Ia tahu jika Rain tidak akan kembali lagi. Ia berharap ini semua hanya mimpi tidak nyata. Rafa hanya berharap Rain sedang  mengerjainya. Rafa mencoba mencubit tangannya, berharap bisa  membangunkannya dari mimpi. Tapi nihil, ini benar-benar bukan mimpi ini nyata.
            Di balik tembok tempat Rafa dan Rain berada terlihat keluarga Rain, mereka menyaksikan semuanya. Awalnya mereka bersembunyi di sana untuk menagwasi Rain agar ia baik-baik saja. Tapi, ternyata Rain pergi meninggalkan mereka. Mama menangis dengan pilu di pelukan Papa, sedangkan Kevin jatuh terduduk menahan tangisannya. Mereka benar-benar tidak menyangka Rain akan pergi selamanya.
            Malam itu hujan kembali turun dengan deras, seolah bumi juga merasakan apa yang mereka rasakan-kehilangan.

—b

          Pemakaman Rain dilaksanakan keesokkan harinya saat sore hari. Langit mendung menaungi bumi menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Rafa hanya bisa menatap dengan pandangan kosong saat Rain telah dikuburkan.Terlihat Mama Rain beberapa kali pingsan dankarena tidak tega Papa Rain membawa pulang ke rumah.Orang-orang yang melayat sudah beranjak pergi meninggalkan makam, menyisakan Rafa dan Kevin yang masih berdiri.Rafa menaburkan bunga aster di makam Rain.Ia membuka kacamata hitamnya, matanya sembab dan memerah. Rafa berjongkok dan menatap batu nisan, ia menyentuh tulisan di atasnya –Rainy Putri Arga.
            Kevin yang berada di sampingnya juga keadaannya tidak jauh berbeda. Kevin menatap nanar kearah makam Rain, ia hanya bisa tersenyum lemah. Kevin menyentuh pundak Rafa dan Rafa menaikkan sebelah alisnya.
            “Ini dari Rain.Dia nitip ke gue sehari sebelum dia pergi.Gue pulang dulu ya. Lo juga cepet pulang. Jangan sedih, Rain pasti nggak mau ngeliat kita sedih karena kepergiannya.Lo harus ikhlas.” Ucap Kevin seraya memberikan secarik surat kepada Rafa.
            “Iya, Kak makasih.Gue udah ikhlas, Kak.” Rafa menerima surat yang di berikan Kevin.
            Kevin hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi meninggalkan makam. Rafa membuka surat dari Rain, ia membacanya sambil tersenyum.
“Hi. Rain!”
Lo baik-baik aja kan? Haha.
Lo nggak usah khawatir, gue juga baik-baik aja di sini.
Gue baru sadar loh, kalo nama kita itu sama.
Lo Rain.
Gue juga Rain.
Lo suka hujan.
Gue juga suka hujan.Haha.
Lucu ya, ternyata kita ada kemiripan.
Gue minta maaf kalo gue pergi ninggalin lo duluan. Lo tau, gue seneng banget kita  bisa jadi temen. Lo temen pertama dan terakhir buat gue. Maaf kalo selama ini gue selalu nyusahin lo.Dan maaf jugague nggak ngasih tau kalo gue ini sakit.Gue Cuma nggak pengen bikin lo khawatir.
Meskipun gue udah pergi, gue akan selalu ada di hati lo. Lo jangan sedih apalagi nangis, kan nggak lucu. Seorang Rain Altarafa nangis.Haha.
Makasih udah buat kenangan yang indah.
Jaga diri lo baik-baik.
Gue sayang sama lo.

P.s: Jangan pernah memebenci hujan.

                                                                                                                        With Love,
                                                                                                                        Rainy.
           





            Rafa menghapus air matanya yang menetes. Cukup ia tidak boleh menangis lagi. Ia melipat surat dan mengantonginya. Rafa beranjak dari tempatnya, ia memandangi langit yang sebentar lagi akan turun hujan. Ia menghela napas dan seulas senyum terlihat dibibirnya. Semilir angin menghampirinya, seolah Rain sedang menyapanya.Ia menatap makam Rain sekali lagi.
            “Selamat jalan Rain.”
            Setelah Rafa mengucapkan selamat tinggal, ia berjalan pulang meninggalkan makam. Kemudian rintik-rintik hujan turun mengiringi langkah Rafa.Rafa mendongkakkan wajahnya dan tersenyum.
            “Hi Rain.”




                                              


www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com